Tingginya tingkat kunjungan pariwisata ke Kota Batu rupanya bukan jaminan bahwa sektor wisata di kota dingin itu sukses. Bahkan catatan biro diklat IT dan informasi Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebut bahwa potensi pariwisata Kota Batu belum tergarap maksimal. Indikasinya, wisatawan hanya kenal lokasi wisata-wisata tertentu saja.
Hendra Rustiadi, Kepala biro diklat PHRI Kota Batu mengatakan, persoalan itu hingga saat ini menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi pelaku-pelaku wisatawan. Karenanya, PHRI yang juga wadah pemilik fasilitas pariwisata akan berupaya mengenalkan potensi lain yang belum tergarap. “Masih banyak potensi wisata di kota ini yang belum dikenal masyarakat luas,” kata dia, kemarin.
Untuk mensukseskan program itu, PHRI bakal menggandeng Malang Tourism Center (MTC) dan Asosiasi Travel Malang untuk turut mempromosikan potensi wisata di Kota Batu. “Travel memiliki peranan yang sangat penting, karena mereka yang berhubungan langsung dengan wisatawan,” jelas Hendra yang juga manajer Batu Suki Resort ini.
Menurutnya, beberapa potensi yang masih digarap adalah wisata bercocok tanam, wisata menangkap ikan, dan wisata menanam bunga atau sayur. Semua potensi wisata itu tersedia lengkap di Kota Batu. Jika semua potensi itu dikemas dengan konsep pendidikan kepada anak, maka akan lebih menarik. Karena anak-anak akan tahu betapa susahnya menanam padi yang mereka makan. Betapa sulitnya menangkap ikan dan seterusnya. “Hal-hal semacam itu bisa memberikan pelajaran bagi anak-anak. Tetapi, selama ini potensi tersebut tidak pernah dikemas dan ditawarkan kepada wisatawan,” bebernya.
Padahal, wisatawan dari kota-kota besar seperti Surabaya sangat senang jika disuguhi konsep wisata bercocok tanam atau menangkap ikan. “Saya yakin, kalau digarap sungguh-sungguh, wisata-wisata semacam itu bisa menjadi daya tarik tersendiri,” tandas Hendra.
Sementara itu, selain persoalan kemasan potensi wisata yang dinilai belum maksimal, ganjalan lain sehingga potensi wisata Kota Batu tak dikenal adalah tidak adanya paket rute wisata. Akibatnya, wisatawan yang datang hanya menghabiskan waktu di satu lokasi. Padahal, jika ada program rute wisata, maka akan mendongkrak pemerataan kunjungan wisata.
JPNN
Baca juga :
Komentar :