Siapa bilang perempuan yang mengidap sakit gangguan jiwa tak butuh tampil cantik. Di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dr Radjiman Wediodiningrat, Lawang, sejak 1 April 2008 lalu, terdapat klinik kecantikan yang digagas dokter Yeni Dian Kurniawati. Siapa dia?
Ruang pelayanan masyarakat di lantai I, gedung utama RSJ Lawang, Kamis kemarin tampak lebih tenang dibandingkan dengan ruang pelayanan lainnya. Di ruangan berukuran sekitar 8 meter x 5 meter itu tercium aroma wangi bunga melati. Tata interior ruangan pun lebih apik dan terkesan minimalis sehingga tidak terkesan sebagai sebuah rumah sakit.
Kondisi ruangan itu berbeda dengan ruang pelayanan kesehatan lainnya di RSJ yang terkesan lebih kaku. Inilah ruang klinik kecantikan dan kesehatan kulit khusus bagi perempuan yang dikelola RSJ Lawang.
Lima menit duduk di ruang tunggu, muncul dua wanita sebaya keluar dari ruang perawatan. Seorang wanita mengenakan setelan span warna gelap dengan akrab menyalami wanita di depannya. “Terima kasih ya Bu atas kunjungannya. Kami ingatkan bahwa perawatan harus rutin dilakukan. Jika tidak rutin berkunjung, nanti kecantikannya berkurang lho,” ujar wanita yang diketahui bernama dr Yeni itu. Dia kepala di klinik kecantikan RSJ. “Ah Bu Yeni. Dasarnya saya kan sudah cantik. Ke klinik ini agar lebih cantik. Benar ndak Bu?” sahut wanita berusia 40 tahunan di depannya, sambil mengelus-ngelus kulit tangannya.
Di RSJ Lawang, Yeni masih relatif muda sebagai seorang yang menyandang profesi ilmu kedokteran. Per 2 September mendatang, usianya baru genap 37 tahun. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta itu masih menyandang dokter umum. Namun, dalam diri sosok dokter ini, tersimpan cita-cita besar bagi pengembangan RSJ. “Cita-cita ini berawal ketika saya masih berstatus dokter honorer pertengahan 2007 lalu,” kata wanita kelahiran Malang 2 September 1973 itu di ruang tunggu.
Setelah enam tahun menjalani tugas sebagai pegawai tidak tetap (PTT) di RSJ, pikirannya mulai terbuka. Dia melihat ada yang kurang lengkap dengan penanganan para pasien pengidap sakit jiwa. Ia merasakan RSJ saat itu masih hanya sebatas peduli dengan kesehatan jiwa para pasien. Namun kepedulian terhadap penampilan belum disentuh. Utamanya pasien wanita.
Padahal, rambut kusut dan bau badan tidak sedap menjadi menu utama bagi pengunjung yang setiap hari berkunjung ke RSJ. Akibatnya, dokter dan perawat juga dibuat kurang nyaman melihat kondisi pasien.
Yeni berpendapat, meski para pasien yang dirawat sedang sakit jiwa, bukan berarti RS harus mengabaikan penampilan mereka yang tidak karuan layaknya orang sakit jiwa yang berkeliaran di jalanan. “Mereka (pasien) ini berada di rumah sakit. Seharusnya memperoleh perawatan tubuh agar tidak terkesan kumuh,” tutur dia. Dengan latar belakang itulah, Yeni berani mengutarakan keinginanya kepada Direktur RSJ (saat itu) Dr Eko Susanto Marsoeki.
Direktur yang telah meninggal Desember 2009 lalu tersebut merespons usulan Yeni. Hanya, untuk merealisasikan keinginan itu, butuh waktu setahun karena terkendala masalah pembiayaan.
Suami Jatmiko Pambudi ini sempat putus asa melihat keinginannya tidak kunjung diwujudkan. Bahkan, dia sudah mau mengundurkan diri dari RSJ untuk mencari instansi kedokteran lain yang bersedia menggunakan keahliannya. “Rasanya cita-cita itu agak idealis. Namun entah kenapa dorongan itu cukup besar. Saya kasihan melihat kondisi para pasien,” ujar dokter pemilik rambut berombak ini.
Oleh Eko, keinginan Yeni untuk keluar diminta diurungkan. Karena pada pertengahan 2007 itu, manajemen mengirim Yeni ke Surabaya untuk berlatih kursus kecantikan dan perawatan kulit selama tiga bulan. “Saat itu saya sempat bingung. Ingin buka klinik, kok hanya saya yang dikursuskan. Kenapa dokter lain tidak?” tutur Yeni.
Setelah tiga bulan menempa ilmu di Kota Buaya, Yeni balik ke Malang. Selanjutnya, Eko minta kepada Yuni untuk mengundang para pemateri yang mendidiknya di Surabaya guna memberi bekal singkat kepada perawat di RSJ terkait masalah seputar perawatan kulit dan kecantikan.
Setelah persiapan SDM tuntas dilakukan, berikutnya persiapan tempat. Klinik disediakan di lantai I, gedung utama RSJ. Untuk sebuah klinik, ukurannya tidak seberapa luas: sekitar 8 meter x 5 meter. Di tempat itu ada dua piranti elektronik yang disediakan khusus untuk mengangkat sel-sel mati pada wajah.
Klinik ini diawaki oleh tiga orang. Selain Yeni, ada dua perawat. Tepat 1 April 2008, klinik perawatan kulit dan kecantikan di RSJ resmi dibuka. Sengaja, klinik ini dibuka untuk umum dan tidak hanya melayani para pasien. Tujuannya agar keberadaan klinik juga bisa membantu memberikan pemasukan bagi RS yang sudah menerapkan BLU (badan layanan umum) sejak 2008 itu.
Awal pelayanan, konsumen perdana di klinik ini adalah pasien RSJ yang pembiayaannya dijamin mengunakan jamkesmas. Pasien wanita yang masih berusia 20 tahunan ini merasa kurang percaya diri karena wajahnya berjerawat. “Lumayan banyak jerawatnya sehingga penyembuhan harus dilakukan lebih dari sekali,” ujar Yeni.
Yeni sengaja mencomot pasien ini karena melihat keluarganya tidak peduli. Untuk menumbuhkan rasa percaya diri pasien itu, Yeni membawanya berobat ke klinik.
Namanya saja mengobati pasien gangguan jiwa, tentu saja ada peristiwa yang menggelikan kerap terjadi. Misalnya, kadang ada yang enggan melihat cermin atau terus menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena takut disentuh dokter. Akibatnya, dokter dan perawat harus pandai-pandai merayu. Tujuannya agar proses perawatan wajah bisa dilakukan.
Ketika perawatan wajah selesai dan pasien merasa wajahnya tambah bersih, Yeni mendapat pujian ucapan terima kasih berkali-kali. “Bisa jadi, saat keluar dari klinik mengucapkan terima kasih hingga 10 kali lebih,” imbuh Yeni.
Melihat perilaku pasien tersebut, Yeni tersenyum dan dalam hati merasa bangga karena bisa membuat orang bahagia kendati orang itu sedang mengidap sakit jiwa. Perubahan sikap positif pun terjadi pada diri pasien yang usai dia rawat. Dia semakin bertambah percaya diri dan tidak lagi minder dengan orang lain.
Sejauh ini, klinik kecantikan hanya melayani pasien yang mengalami gangguan jiwa tidak seberapa parah dan sudah keluar dari masa pengawasan. Apabila pasien yang masih akut menjalani perawatan kecantikan dikhawatirkan akan membahayakan si dokter dan perawat.
Biaya tergantung dari jenis pasien saat dirujuk ke RSJ. “Jika dari jenis pasien gakin (keluarga miskin) yang biaya perawatannya di-cover jamkesmas, tentunya untuk menjalani perawatan di klinik kecantikan gratis. Namun apabila pasien umum, akan dikenakan biaya dengan tarif terjangkau,” papar Yeni.
Pasien gakin yang dirawat di klinik kecantikan diambil secara acak dan dilihat dari sisi mendesak atau tidaknya. Namun untuk pasien umum, klinik menunggu permintaan dari keluarga pasien.
Dalam perkembangannya hingga dua tahun berjalan, fasilitas di klinik terus bertambah. Bukan hanya perawatan wajah namun juga perawatan tubuh seperti mandi susu, spa, mengencangkan payudara dan pantat. Tidak hanya itu. Pelanggan yang datang bukan hanya pasien di RSJ, namun juga masyarakat umum. Masyarakat umum yang kepincut dengan layanan di klinik kecantikan kebanyakan keluarga pasien ketika datang menjenguk. ”Sambil menjenguk, mereka (keluarga pasien) datang untuk melakukan perawatan kulit dan wajah,” ujar Yeni.
Klinik buka Senin hingga Jumat, mulai pukul 08.00 hingga pukul 14.00. Dalam sehari, klinik melayani konsumen lima hingga delapan orang dengan beragam jenis permintaan layanan.
JPNN
Baca juga :
Komentar :