Thursday, February 9, 2012 16:54 WIB


cara diet sehat


Toshiko Ohmatoi, Cintai Kota Batu lewat Lukisan Bunga Tropis

Oleh pada Sunday, May 16, 2010, 19:17

iklan murahiklan murah

cara diet sehat

Toshiko adalah satu di antara sekian banyak orang asing yang mengaku cinta Indonesia. Wujud kecintaan Toshiko terhadap negeri ini ditunjukkan lewat karya lukisnya. Yakni, lukisan bunga tropis yang banyak tumbuh di Indonesia.

Toshiko lahir di Kamakura City, kota tua yang berjarak 1 jam perjalanan dari ibu kota Jepang, Tokyo. Toshiko menghabiskan 23 tahun masa hidupnya di kota yang menjadi tempat tinggal favorit bagi artis dan orang kaya Jepang.

Kala itu, tak terbesit sedikit pun di pikirannya bahwa kelak dia akan menetap di negara yang pernah dijajah Jepang, Indonesia.

Pada usia 23 tahun, Toshiko yang lulusan sekolah menengah atas ini menikah dengan Takeshi Ohmatoi, seorang consultant engineer Nippon Koei Co, Ltd. Kemudian pada usia 28, tepatnya pada 1971, dia mengikuti suaminya ke Indonesia. Tujuan utama mereka adalah Karangkates. Kebetulan Takeshi menjadi konsultan untuk proyek Bendungan Karangkates.

Inilah awal dari perjumpaan Toshiko dengan sebuah negara yang jauh berbeda dengan Jepang, negara asalnya. “It’s very big different (ada perbedaan besar antara Jepang dan Indonesia, Red),” ujar Toshiko yang mengaku masih belum begitu lancar berbahasa Indonesia. Perbedaan yang ada antara kedua negara itu, seperti iklim. “Iklim di sini sangat bersahabat,” sambung wanita kelahiran 18 Desember 1943 ini.

Toshiko memang tidak terus menerus menetap di Indonesia. Beberapa kali dia sempat bolak-balik tinggal di Jepang dan Indonesia secara bergantian. Selain Karangkates, Bendungan Asahan (Sumatera Utara) adalah wilayah lain di negeri ini yang pernah ditempati. Saat itu suaminya tengah sibuk mengerjakan proyek Bendungan Asahan.

Setelah sempat kembali menetap di Jepang sejak 1982, pada 1997 dia kembali lagi ke Indonesia. Awalnya, dia bersama suami menetap di Tulungagung, sebelum akhirnya pindah ke rumahnya yang sekarang, yakni Villa Klub Bunga Regency, Kota Batu, pada tahun 2001.

Sejak kecil, Toshiko merupakan penggemar bunga. Dan di Kota Batu inilah, dia bisa menikmati bunga tropis. Di rumahnya yang asri, dia mengoleksi berbagai macam bunga, khususnya bunga tropis.

Bunga-bunga itu sebagian besar ditanam di halaman rumah, sebagian lagi ada yang ditanam dalam pot dan diletakkan di dalam rumah. Jenis bunganya pun beragam, mulai dari jenis anggrek, mawar, hingga bunga jade.

Pada 2002, dia mulai berpikir bagaimana caranya agar dapat terus menikmati bunga tropis Indonesia. Jika selamanya menetap di Kota Batu, mungkin tidak ada masalah. Tapi bagaimana jika ia harus kembali ke Jepang? “Bunga tropis tidak mungkin hidup di negara Jepang,” ujarnya.

Akhirnya dia memutuskan membawa bunga tropis itu dengan “cara lain”, yakni lewat lukisan. Dia lalu membeli peralatan yang sederhana, yakni kertas gambar dan satu set pensil warna. “Padahal selama ini saya tidak pernah melukis,” tambah Toshiko.

Namun dengan tekad yang kuat, dia memberanikan diri menggoreskan pensil warna di atas kertas. Kali pertama bunga yang dilukis adalah bunga pisang bali.

Tak puas dengan hasil karya pertamanya, dia terus mengasah kemampuannya. Hampir seluruh aktivitas melukisnya dilakukan di area rumah. Kebetulan, Toshiko memiliki waktu luarng. “Daripada tidak ada kerjaan,” tegas dia.

Dia mampu menyelesaikan 1 buah lukisan dalam waktu 3-7 hari. Waktu pengerjaan ini selain dipengaruhi oleh faktor kesulitan, mood, juga karena faktor objek lukisannya. Menurutnya, dia harus ekstra cepat jika melukis bunga yang cepat layu. Sementara untuk bunga yang lebih tahan lama, ia bisa sedikit santai.

Puncak karyanya dipamerkan pada April 2009 lalu. Dia memamerkan 70 buah karya lukisnya di Hotel Tugu Malang. Pameran ini bukan atas inisiatifnya sendiri, melainkan atas dorongan dari teman-temannya. “I can’t believe it. I’m not painter, just hobby (saya tidak percaya, karena saya hanya seorang penghobi, bukan pelukis),” terang Toshiko.

Kemudian yang terakhir, pada April 2010 yang lalu, dia kembali mengadakan pameran di Hotel Tugu. Namun kali ini karya yang ditampilkan hanya 27 buah. Ini karena di kesempatannya yang kedua ini, dia tidak sendiri, melainkan berpameran bersama seorang pembatik Simon Lenan.

Menurut Toshiko, kebanyakan karya lukisnya sudah berada di Jepang. Namun dia mengelak jika dia membuat galeri di sana. Dia hanya menyimpan karyanya di rumah pribadinya, di Kamakura City. “Saya juga sering menunjukkan karya saya pada Satoko Kumagai, ibu saya,” katanya.

Selain untuk hasrat pribadi, tujuan Toshiko melukis juga untuk menyenangkan ibunya. Ini karena ibunya sangat ingin melihat bunga tropis Indonesia. “Karena sudah tua dan tidak mungkin pergi ke Indonesia, sayalah yang membawa bunga untuk ibu,” terangnya Toshiko.

Meski mengaku cinta dan betah tinggal di Kota Batu, dia tidak akan selamanya tinggal di sini. “Saya orang Jepang dan lahir Jepang, maka saya juga ingin meninggal di Jepang,” ujarnya.

Toshiko berencana untuk tinggal di Kota Batu dua tahun lagi. Karena sudah lama tinggal di Indonesia, dia ingin terus melihat Indonesia, salah satunya lewat karya lukis bunga tropis yang selama ini dibuatnya.

Meski belum ada rencana untuk membuat galeri di Jepang, dia tidak akan pernah menjual lukisannya. “Lukisan ini sangat berharga, karena lewat lukisan ini saya bisa mengenang kehidupan saya selama di Indonesia,” ujar Toshiko.

JPNN

Baca juga :

bendungan asahan terdapat di, kota yang iklimnya tropis, hotel tugu malang lukisan, klub bunga regency, lukisan bunga dalam pot

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

iklan murahiklan murah

cara diet sehat



Komentar :