Kepiawaian Syaikhu Ahmad Yani menerapkan pembelajaran ilmu berhitung metode RME (realistic mathematic education) mengantarkannya pada prestasi dunia. Syaikhu meraih juara I tingkat dunia pada lomba kreativitas pembelajaran yang digelar Seameo (Southeast Asean Minister of Education Organization) di Jogjakarta.
Syaikhu Ahmad Yani SPd tampil beda. Pagi kemarin, guru matematika sekaligus wakil kepala humas Sekolah Dasar Islam (SDI) Sabilillah Malang ini tak mengenakan seragam putih yang biasa dipakai para guru SDI Sabilillah pada hari Senin. Dia mengenakan seragam Korpri bercorak kebiru-biruan dengan lambang garuda di sejumlah bagian.
Syaikhu memang tak berseragam seperti guru lainnya. Karena Senin kemarin, dia diharuskan tampil dengan seragam Korpri untuk menerima penghargaan dari Wali Kota Malang Peni Suparto. Dia diundang Dinas Pendidikan Kota Malang dalam upacara peringatan Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) dan menerima penghargaan.
Undangan khusus itu didapat Syaikhu karena ia turut menyumbang nama harum Kota Pendidikan di bidang pendidikan pada even internasional Februari lalu di Jogjakarta. Lelaki 30 tahun ini mampu menyingkirkan belasan delegasi dari sejumlah negara. Di antaranya, Malaysia, Filipina, Kamboja, Thailand, Laos, Vietnam, dan Timor Leste.
Lomba yang diikuti Syaikhu adalah QITEP (Quality Improvement of Teacher and Education Personnel) in Mathematics. ”Sebelum ikut lomba, saya digembleng dengan pelatihan selama satu bulan di Jogjakarta,” ucap Syaikhu.
Alumnus FKIP Unisma ini menang setelah metode pembelajaran matematika RME (realistic mathematic education/pendidikan matematika realistis) yang dibuatnya mampu menyedot perhatian tim juri. “Metode ini memudahkan dan menggembirakan anak-anak. Karena anak-anak juga diajak berpikir untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi,” ujar pria kelahiran Mojokerto ini di SDI Sabilillah, siang kemarin.
Metode RME merupakan metode belajar matematika yang ditemukan Prof Hans Freudenta dari Belanda. Metode ini mengedepankan pembelajaran secara realistis melalui interaksi langsung antara guru dan siswa.
Syaikhu pun memeragakan model RME-nya. Ia mengajak sejumlah siswa. Lalu dia mengambil balok dan segitiga. Lantas sejumlah siswa diminta mengumpulkan balok dan segitiga itu menjadi satu.
Para siswa tampak antusias. ”Mereka tak sekadar ditunjukkan ragam bentuk, tapi juga diajak berpikir dulu. Kalau ada problem, mereka sendiri diminta mengurai persoalan yang terjadi,” terang Syaikhu.
Misalnya, saat anak-anak bermain dengan beragam bentuk, lalu diminta untuk mengumpulkan bentuk dan benda dengan yang ciri-ciri yang sama. Setelah itu, baru ditunjukkan nama bentuk tersebut. Seperti bentuk segi tiga, segi empat, dan seterusnya. “Ini cukup sederhana, tapi akan mengena pada anak-anak. Apalagi dengan menyuguhkan dari kehidupan yang ada di sekeliling mereka,” kata bapak satu anak ini.
Metode RME yang dibuat Syaikhu ini memang mengajarkan siswa cara memahami matematika secara mudah. Tepatnya, tanpa harus banyak menghafal.
Misalnya, untuk menghitung 2 x 3 tak perlu menggunakan hafalan seperti yang dilakukan siswa selama ini. Guru harus mengajari anak dengan alat. Misalnya menggunakan tiga gelas yang diisi masing-masing dua buah. Dengan cara itu, subtansi matematika mudah dicerna siswa.
Beberapa keunggulan RME itu pun dapat membuat anak-anak berpikir secara mudah. Apalagi cara mengajarnya juga menggembirakan sehingga akan melekat di ingatan. “Matematika bukan hal yang rumit, juga bukan momok. Matematika itu menyenangkan,” ujarnya.
Kini, Syaikhu punya kewajiban menyebarkanluaskan metode pendidikan matematika yang memudahkan tersebut. Khususnya di lembaga yang saat ini dia tempati. “Saya juga sudah menyampaikan ke dinas pendidikan, tinggal menunggu tindaklanjutnya untuk dipakai di sekolah lain yang membutuhkan,” kata Syaikhu.
Sebelum mengantongi prestasi ini, Agustus tahun lalu Syaikhu juga masuk menjadi finalis Ajang Indonesia Science Festival yang dihelat Depdiknas (sekarang Kemendiknas). Sedang, di tingkat Kota Malang, dia meraih juara II dalam lomba menulis buku mata pelajaran TIK (teknologi Informasi dan komunikasi).
JPNN
Baca juga :
Komentar :