Meski kurang dikenal di Malang, nama Sumarsono Gafur atau yang lebih dikenal Ono Gaf justru moncer di luar negeri. Karya-karyanya tersebar di 25 negara. Kini pria 63 tahun ini memilih menerima tawaran jadi pengajar seni pasien RSJ (Rumah Sakit Jiwa) Lawang dan pengunjung hotel ternama di Batu.
“Ayo masuk. Silakan duduk,” kata Ono Gaf menerima di rumahnya di Jl Semeru Gg Gereja 12, Kelurahan Oro-Oro Dowo, Kecamatan Klojen, siang kemarin.
Rumah Ono Gaf cukup sederhana tanpa teras. Saat menginjakkan kaki di ruang tamu berukuran 5 x 6 meter itu, wartawan koran ini berdiri termangu mau duduk di mana. Sebab, dari dua kursi di ruangan itu, tinggal satu kursi yang kosong. Satu kursi di sisi kanan ruangan ditempati salah satu karya Ono Gaf yang menyerupai seekor binatang dari rangkaian besi.
Karya itu berjejer dengan karya-karya rangkaian besi dan baja lainnya yang bertumpu pada tumpukan buku. Karya dan buku itulah yang mengisi salah satu kursi dan sudut ruangan.
Sebenarnya, tak hanya kursi yang tertutup dengan tumpukan buku dan karya seninya. Tapi juga meja tamu dekat kursi. Meja tamu itu juga tertutup tumpukan buku dan karya lukisan abstrak yang terbuat dari berbagai macam ukuran mini.
Selain menutupi kursi dan meja, dinding ruang tamu kondisinya juga tidak jauh beda. Dinding tembok nyaris tertutup oleh karya lukisan tangannya dari berbagai ukuran. Mulai dari ukuran mini 30 sentimeteran hingga dua meteran. “Ruangannya memang sempit. Ayo silakan duduk,” ucap Ono Gaf sambil duduk di lantai.
Beragam karya lukisan yang dipampang Ono Gaf di ruang tamu. Ada sosok Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Di sebelahnya ada karya lukisan yang sekilas berbentuk sosok Bagong dalam pewayangan.
Di bagian lainnya, ada lukisan yang sulit digambarkan. Hanya ada guratan garis, lingkaran, dan beragam kombinasi warna-warni pada bidang yang tak berbingkai. “Ehm, gimana ya menjelaskannya. Sulit. Tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dinikmati,” ujar Ono Gaf sambil menunjukkan karya lukis abstrak yang mengisi sebagian ruang tamunya.
Pemandangan bertumpuknya karya beserta tumpukan buku itu sebenarnya tidak hanya terlihat di ruang tamu. Tapi juga pada di sudut ruangan lainnya.
Seperti halnya di bagian depan pintu kamar tidur hingga ruang kosong menuju lantai dua rumahnya. Ruangan untuk melukis, membuat patung, hingga membatik. Bahkan, kondisinya bisa terhitung lebih parah. Nyaris tidak ada ruangan yang bisa dipakai untuk bergerak bebas di dua ruangan tersebut. Untuk melangkahkan kaki saja sudah sulit. Apalagi melakukan aktivitas lainnya.
Anak tangga menuju lantai dua berukuran satu meter itu juga menyisakan sekitar 25 sentimeter. Selebihnya, anak tangga itu diisi dengan kuas, kaleng cat, plastik, hingga barang-barang bekas.
Meski berada di ruangan yang tak bisa leluasa bergerak, di situlah Ono Gaf menemukan kebebasannya dalam berkarya. “Enjoy saja. Dari sini saya juga bisa terus berkarya. Bisa melukis, membuat keramik dan membuat patung,” katanya sambil menunjukkan salah satu kepala patung yang terbuat dari keramik.
Ya, dari ruangan yang sesak itulah, karya-karyanya terbang ke berbagai negara. Menurut catatan Ono Gaf, karyanya sudah dikoleksi wisatawan asing dari 25 negara. Mulai dari negara-negara di Eropa, Amerika, Australia, Asia, hingga Afrika.
Karyanya tidak hanya dibeli wisatawan asing saat menggelar pameran. Tapi juga saat berkunjung ke rumahnya. Rumahnya yang berada di gang kecil itu memang kerap menjadi jujugan orang asing. Itu berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Tepatnya setelah dia menggelar pameran patung tunggal di Konsulat Amerika di Surabaya pada 1975. Lalu, ia juga menggelar pameran di Konsulat Belanda dan beragam pameran tunggal lainnya.
Terjun di dunia seni itu memang sudah lama ditekuni bapak tiga anak ini. Bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar dia sudah menemukan bakatnya dalam berkesenian. Khususnya pada seni lukis dan patung. Kesenangan itu dilanjutkan hingga lulus SMA.
Sejak terjun di dunia seni patung dan lukis, Ono Gaf memang tidak bergabung dengan sanggar atau kelompok kesenian. Dia mempelajari secara otodidak. Dengan cara itu, dia merasa enjoy. Paling tidak bisa menemukan kesalahan-kesalahan yang ia buat sendiri dan bebas berkreasi.
Ono Gaf tidak hanya mewujudkan kebebasannya dalam berkreasi. Tapi juga menghasilkan karya yang bisa dinikmati siapa saja. Salah satunya, pada karya patung-patung yang dibuat dari potongan besi lempengan baja serta barang-barang bekas yang dipajang di pinggir jalan. Karyanya bisa dinikmati siapa saja yang lewat. “Ada tentara yang melintas lalu berhenti. Ada juga orang tua dengan anaknya yang sama-sama mendorong gerobak juga berhenti melihat. Saya amati itu,” ujar dia.
Karya Ono Gaf juga bisa dinikmati para wisatawan. Beberapa karya seni lukis maupun patung juga menghiasai ruang-ruang pariwisata. Seperti halnya pada beberapa sudut di Jatim Park dan Wisata Bahari Lamongan. Mulai dari lukisan dan patung besi-baja.
Selain terus berkarya, Ono Gaf juga selalu meluangkan waktu membaca buku. Karena, baginya, buku adalah jendela dunia yang bisa dinikmati dari dalam rumah.
Dia memiliki cukup banyak koleksi ensiklopedia. Seperti halnya Ensiklopedia Indonesia, Ensiklopedia Americana, kumpulan buku The Book of Art, hingga Ensiklopedia Islam.
Di sela-sela aktivitas berkesenian, Ono Gaf juga memiliki kesibukan lain. Dia mengajar lukis dan mematung di Hotel Klub Bunga, Batu. Dia mengajari tamu-tamu asing, pejabat, hingga masyarakat umum yang berkunjung ke hotel. Aktivitas itu sudah dia geluti selama 13 tahun.
Selain mengajar di Klub Bunga, dia juga menjadi guru privat lukis dan membuat patung di berbagai wilayah di Jatim. Seperti Surabaya, Mojokerto, Jombang, Kediri, dan sejumlah wilayah lainnya.
Saat ini, Ono Gaf juga memberi pelajaran berkesenian di RSJ (Rumah Sakit Jiwa) Lawang. Dua minggu lalu, dia didatangi dokter-dokter penyakit jiwa itu dan diminta mengajar pasien RSJ.
Darah seni itu rupanya menurun ke anak-anaknya. Tiga anaknya, satu laki-laki dan satu perempuan, juga menekuni dunia seni lukis.
JPNN
Baca juga :
Komentar :