Thursday, February 9, 2012 17:07 WIB


cara diet sehat


Nurhajati, Guru Besar Pebisnis dan Pencipta Batik Tulis Malangan

Oleh pada Tuesday, April 6, 2010, 6:32
Kategori Profil ada 0 Tanggapan .

iklan murahiklan murah

cara diet sehat

Serbuan batik printing “dilawan” oleh Prof Dr Nurhajati SE MM. Guru besar Unisma ini yakin batik tulis khas Malangan punya kekuatan unik. Dia studi ke candi-candi di Malang. Sudah dipatenkan.

BATIK khas Malang agak “malang” nasibnya. Ketika orang Malang tak banyak yang care, orang luar Malang banyak yang menyukainya. Buktinya, produksi batik khas Malangan Prof Dr Nurhajati SE MM menjadi jujugan para pejabat negara saat bertandang ke Malang. Para wisatawan juga banyak menggandrunginya.

Nurhajati menggarap bisnis batik tulis ini lewat gerai AntiQue Batik. Alamatnya di Jalan Pekalongan nomor 8 Malang (kebetulan yang manis, karena Pekalongan terkenal dengan batik tulis juga). Gerainya tidak pernah sepi pengunjung.

Banyak orang penting yang mampir ke AntiQue Batik. “Tujuh menteri Kabinet Indonesia Bersatu pernah ke sini. Di antaranya, Mendiknas M. Nuh, Menkeu Sri Mulyani, dan Menpora Andi Alfian Mallarangeng. Saat penyelenggaraan KSN (Kongres Sepak Bola Nasional), para pejabat menyempatkan ke sini,” ucap Nur saat ditemui di rumahnya, Jl Ciujung 26.

Keseharian Nur, selepas aktivitasnya di kampus sebagai direktur Pascasarjana Unisma, berkutat di AntiQue Batik. Namun ketika ditemui Kamis lalu, Nur memilih bertemu di rumahnya. Kebetulan wanita berkerudung tersebut sedang memiliki gawe. Yakni, menikahkan putri kelimanya, Ferryal Dianita, yang berlangsung Sabtu (3/4) lalu.

Bukan hanya tujuh menteri, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan B Nyonya Ani pernah mampir dua tahun lalu. Saat peresmian Batalyon Kesehatan (Yonkes) Divisi 2 Kostrad di Desa Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Nur salah satu peserta pameran. Walau SBY dan nyonya tidak membeli, namun banyak tamu rombongan yang membelinya.

Saat mengingat nama-nama para pejabat lain yang sudah pernah berkunjung, Nur meminta agar tidak membesar-besarkannya. Ia tak ingin, ada kesan bahwa produknya hanya untuk kalangan papan atas saja. Apalagi Nur tengah gencar promosi produknya kepada warga Malang.

“Saya bangga produk saya dikenal dan dipakai para pejabat penting, tapi saya akan lebih bangga kalau warga Malang juga mengenalnya,” ungkap ibu enam anak yang aktif dalam gerakan anti batik printing tersebut.

Sejak karya itu lahir, segmen yang lebih mengenalinya justru dari luar Malang. Untuk konsumen Malang masih sedikit. “Jangan hanya melihat harga yang jutaan rupiah, tapi saya juga menyediakan dari harga ratusan ribu rupiah kok,” tambahnya. Mahalnya produk cukup beralasan. Tak lain karena bahan baku yang juga mahal dan waktu pengerjaan. Untuk mengerjakan satu motif saja, bisa sampai enam bulan. Lagipula hanya musim kemarau saja, pengerjaan bisa berjalan lancar untuk pengeringan alami setelah proses mencanting dan pewarnaan.

Awal mula menciptakan batik Malangan itu dimulai ketika dia menempuh studi S-2 di UGM program studi sosial ekonomi pada 2000. Setiap hari melihat kain bermotif batik di Jogja menggugah inspirasi Nur di tempat tinggal yang ditinggalkan, yakni Malang. Malang sama dengan Jogjakarta dan Solo yang bekas kerajaan.

“Kalau Jogjakarta dan Solo memiliki ciri khas batik, Malang sebenarnya juga bisa,” ucapnya. Dia pun melibatkan salah satu anaknya Ferryal Dianita. Saat itu sang putri menempuh studi di jurusan desain komunikasi visual Fakultas Sastra UM (Universitas Negeri Malang). Bersama rekan-rekannya, Nur meminta agar anaknya melakukan kajian ke sejumlah tempat-tempat bersejarah yang ada di Malang Raya.

Kajian itu di antaranya dilakukan di lima candi di Malang yakni Candi Badut, Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singosari. Tujuannya untuk mengambil unsur dari beberapa relief (hiasan) maupun ornamen dari setiap bagian candi. Setiap relief tersebut kemudian diterjemahkan menjadi motif batik yang dibuatnya.

Pada Candi Badut misalnya, terdapat hiasan simbar teratai pada pelipit atas serta bagian sudut. Puncak Candi Kidal didapati simbar motif mata satu, hiasan mistar isi tumpal lebar dengan kombinasi sulur teratai, serta pohon hayat “parijata’. Begitu pula di Candi Jago yang didominasi pinggir awan yang dimodifikasi, serta adanya hiasan pinggir awan geometris. Termasuk juga di Candi Singosari yang puncaknya ada simbar motif sulur.

“Setiap candi kami ambil relief dan ornamen lantas dipadukan. Ada sekitar sepuluh motif yang kami kreasikan. Tentunya kami lakukan melalui serangkaian penyempurnaan,” katanya. Maka, tepat 2002 lalu karyanya tersebut direalisasikan di atas kain sutera jenis ATBM (alat tenun bukan mesin).

Dalam perjalanannya karya Nur yang melibatkan puluhan pekerja terlatih tersebut didaftarkan ke Departeman Hukum dan HAM (hak asasi manusia), pada 5 Maret 2008. Nama yang didaftarkan Parama Iswari AntiQue Batik Malang dengan nomor C00200800816. Parama Iswari merupakan kepanjangan dari prameswari yang artinya permaisuri.

“Tujuannya untuk menghindari penjiplakan. Setelah semuanya siap kami baru berani me-launching September 2008 lalu,” kata peraih penghargaan dari Bisnis Indonesia dengan kategori Produk Paling Inovatif, pertengahan 2009 lalu itu.

Untuk mengenalkan karyanya secara konsisten, Nur rajin mengikuti pameran baik dalam dan luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, bahkan negara-negara Eropa. Akses pameran luar negeri terbuka setelah menjadi salah satu UKM binaan Pertamina Pusat. “Kami senang karena setiap kali ikut pameran, biayanya ditanggung pihak Pertamina. Kami juga bisa mendapatkan tambahan modal ke bank dengan bunga lebih rendah,” ucap peraih The Asian Best Executive Citra Award 2006 lalu itu.

Hanya saja, dari pameran luar negeri yang pernah diikuti memang belum langsung terasa hasilnya. “Pameran kan tujuan jangka panjang,” ungkapnya.

Bahan baku yang digunakan sutera China. Namun karena mahalnya, harga sutera apalagi merupakan berkelas impor, Nur menyiasati dengan mencoba produk dalam negeri ATBM (alat tenun bukan mesin) dari Jepara, Bandung, Jateng, Tasikmalaya, dan Makassar. Sutera China tetap dimanfaatkan, hanya untuk kulakan biasanya menunggu saat nilai dolar stabil.

“Menyangkut batik sebenarnya yang lebih penting untuk dilakukan memerangi batik printing. Kami bersama anggota lain, kami terus mengkampanyekan Gerakan Anti Batik Printing,” ujar Nur yang juga tergabung dalam wadah Perajin Batik Sekar Jagat Indonesia itu.

Dasarnya, batik printing tidak sejalan dengan program pemerintah dalam hal mengurangi pengangguran. Batik printing tentu saja tak perlu banyak tenaga kerja. Karena batik printing ini bisa diproduksi secara masal melalui mesin pabrik.

JPNN

Baca juga :

pencipta batik, ciri khas batik malang, batik khas malang, batik beserta penciptanya, pencipta batik slider

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

iklan murahiklan murah

cara diet sehat



Komentar :