Dengan bekal ijazah SMA, Nova Viola sukses menjadi desainer andal. Dari tangannya, ia berhasil merancang kebaya-kebaya berharga jual mahal. Kini ia pun jadi langganan artis-artis ibu kota dan istri-istri pejabat sejumlah daerah mendesainkan baju mereka.
Empat kebaya yang terpasang di manekin itu terlihat begitu anggun. Sepintas dari desainnya seperti kebanyakan kebaya modern yang sering terlihat di pameran-pameran. Berkerah terbuka dengan “ekor”, bahan menjuntai di bagian belakang. Tapi begitu diamati dengan seksama, kebaya itu terkesan istimewa. Terutama dari perbaduan warnanya yang berani dan tidak lazim dipadupadankan.
Sebut saja, kombinasi hijau turkis dengan ungu berbahan tile dan broklat. Warna ungu yang diletakkan sedikit di bagian bawah dada mampu mencuri perhatian siapa saja yang melihat. Apalagi tepat di belahan dada ada bros berwarna putih perak. Kilauan cahaya membuat kebaya tersebut lebih elegan.
“Saya memang menyukai warna-warna kontras. Justru warna kontas itu yang menjadi ciri khas kebaya buatan saya,” ucap Nova Viola.
Ditemui di rumahnya Jl Candi Mendut Barat C/16 Kota Malang, rumah yang sekaligus disulap sebagai gerainya itu Nova ditemani ibunya Indah Nursasi. Ada juga kakaknya Vera Yuniar. Alumnus SMA Dempo ini terlihat baru saja melayani tamu-tamunya. Rata-rata tamu yang datang memesan kebaya. Ada juga yang berkonsultasi untuk dibuatkan kebaya.
“Dalam menjalankan usaha ini saya tidak sendiri, saya ditemani Mama (Indah Nursasi) dan Kakak (Vera). Malah, kami saling berbagi tugas,” kata Nova.
Bakat Nova dirasakan sejak remaja. Ia sering membantu ibunya yang kebetulan bermata pencaharian penjahit. Kala itu, Nova seringkali membantu mengutak-utik baju jahitan ibunya itu meski tanpa diminta. Tak hanya membantu, Nova juga sering memberi masukan tentang desain yang akan dibuat ibunya. Misalnya, suatu ketika ibu satu anak ini diarahkan sang mama melanjutkan sekolah desain khusus baju di Arva Studio, Surabaya, pada 2002.
Sejak itu, bakat yang dimiliki Nova pun melesat. Saat menempa kemampuan ia sudah teruji dengan menyabet juara I sebagai desainer yang digelar di sekolahnya. Tiga tahun setelah itu, dua juara sekaligus langsung direngkuhnya. Salah satunya, juara I lomba rancang busana gaun pengantin internasional versi Majalah Perkawinan.
“Saya sempat beralih ke baju pesta. Tapi atas saran Mama, saya disarankan kembali ke baju kebaya. Alasannya, kebaya akan tetap in. Dan, mengerjakan sesuatu hal itu tidak bisa setengah-setengah. Harus total. Bersyukur, baju saya sudah dikenal,” katanya.
Baju kreasi Nova memang banyak disukai kalangan berduit. Bagaimana tidak. Baju yang dibuatnya bisa sampai harga Rp 45 jutaan. Kebaya itu dibeli seorang istri pejabat Malang. ”Maaf namanya jangan ditulis ya, ndak enak,” kata Nova seraya menyebut nama istri pejabat itu.
Sedang banderol paling rendah Rp 1,5 jutaan. Kalangan pelanggan rata-rata menengah atas. Khusus di Malang Raya ini, karya Nova sudah menjadi langganan para pejabat. Termasuk juga langganan para dokter.
“Pembeli baju saya juga sudah meluas. Dari Jakarta, Surabaya, Bali, dan Kalimantan. Ada juga yang dari Papua,” ungkapnya.
Nova berkisah, keinginan maju dengan kreasi baju kebaya ini memang tertanam kuat. Malah ia sudah membulatkan tekad untuk menjadikan hobinya itu sebagai sesuatu yang “langka”. Artinya, bisa mendapatkan karya yang optimal kalau dijalani dengan rasa suka.
“Bagi saya tidak terasa berat, karena memang saya suka dengan keindahan,” kata anak pasangan Indah Nursasi – Hindra Sugiantara ini.
Kini ada sekitar 40 karyawan dilibatkan untuk membuat kebaya-kebaya tersebut. Para pekerja itu dibagi-bagi sesuai kemampuannya. Seperti khusus menjahit, mempayet, dan finishing. Namun begitu sebagai desainer tetap dipegang sendiri oleh Nova.
“Pemasaran dibantu kakak, kalau Mama sebagai tempat untuk sharing. Kebetulan Mama kan juga bisa menjahit,” katanya.
Nova tak pernah membayangkan kalau karya yang dibuat itu dikenal masyarakat luas. Pernah ada istri artis Yovie and Nuno memesan kebayanya. Belum lagi kebaya karyanya sering mencuri perhatian kalangan etnis keturunan. Padahal, selama ini warga keturunan lebih ketal menggunakan baju pesta modern saat menggelar pesta pernikahan
Untuk mengerjakan satu baju, butuh waktu sekitar tiga bulan. Diakui, tingkat kesulitannya memang tinggi. Terutama saat mem-payet. Karena dituntut ketelitian dan kecermatan untuk menjahitnya. “Saya tidak pernah kering ide, kalau sudah begitu lihat majalah atau pameran, inspirasi bisa hidup lagi,” katanya.
JPNN
Baca juga :
Komentar :