Perjuangan Amanda menjadi Pasukan Pengibar Bendara Pusaka (Paskibraka) di HUT Ke-65 RI sudah diraihnya. Prestasinya ini sekaligus menorehkan catatan tersendiri, kali pertama Kota Malang mengirimkan wakilnya jadi Paskibraka.
Postur tubuh Amanda cukup ideal untuk menjadi seorang Paskibraka. Karena dia mempunyai tinggi badan sekitar 168 sentimeter, berat badan 50 kilogram, didukung dengan paras yang cantik dan pintar dalam akademik di sekolahnya.
Inilah menjadi modal utama dirinya menjadi anggota Paskibraka pada 17 Agustus mendatang di Istana Negara. Saat ditemui di Kantor Dispora Kota Malang, dia masih menggunakan seragam sekolah putih abu-abu, plus dasi warna abu-abu. Di sisi saku baju sebelah kirinya menempel tanda khusus sebagai anggota Paskibaraka.
Tanda itu pun selalu dikenakan kemana pun dia pergi, baik saat mengunakan seragam sekolah atau saat mengenakan pakaian santai. “Tanda ini harus selalu saya kenakan ke mana-mana. Kalau tidak dan saya ketahuan senior saya, pasti kena hukum. Bisa push up atau lari,” kata gadis kelahiran Sydney, 12 Juli 1994 ini.
Bagi putri pasangan Herman Kamra dan Sri Hartatik ini, menjadi anggota Paskibraka adalah keinginannya sejak kecil ketika duduk di bangku sekolah dasar. “Setiap upacara HUT kemerdekaan, saya menyempatkan diri melihat di TV. Karena sejak kecil saya tinggal di Sydney,” ujar pelajar kelas X SMAN 3 Malang ini.
Kesempatan itu baru bisa digapainya ketika masuk SMA. Karena tertarik, tanpa ragu dia mengikuti kegiatan ekstrakurikuler paskibra di sekolahnya. Tinggi badan dan postur tubuh yang ideal inilah, keinginannya menjadi paskibra di sekolah kesampian.
Kerja keras menjadi Paskibraka tingkat nasional ada di pundaknya saat ada seleski yang dilakukan Dispora Kota Malang pada Maret lalu. Dia memberanikan diri mengikuti seleksi tingkat Kota Malang. Tanpa ada kendala, dia akhirnya mampu menyisihkan sekitar 840 peserta lainnya.
Amanda terpilih menjadi wakil Kota Malang bersama Duta Firdaus, yang juga siswa SMAN 3. Dua pelajar ini mengantongi tiket seleksi di rayon B yang meliputi, Kota Batu, Kabupaten Malang, Kota Pasuruaan, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Probolinggo.
Nama Amanda dan Firdaus kembali lolos dalam seleksi rayon B bersama Duta Firdaus. Lolos di rayon B, dia dan Firdaus kembali menjalani seleksi tingkat Jatim bersama 60 peserta dari rayon lainnya di Jatim. Dari 60 peserta inilah, diseleksi menjadi dua orang yang mewakili Jatim sebagai anggota Paskibraka tingkat nasional.
Seleksi di tingkat Jatim tidak jauh beda saat menjalani seleksi di rayon, yakni tes tes tulis dengan materi paskibraka dan pengetahuaan umum, tes kesehatan mental, tes wawancara dengan bahasa Inggris, dan tes fisik baris-berbaris. Dia akhirnya lolos bersama M. Aly Baztomy Wachidi dari Gresik. “Saya sangat bangga sekali bisa menjadi wakil Jatim di tingkat nasional,” tegasnya.
Perjuangan Amanda untuk menjadi Paskibraka ini memang tidak lepas di sini saja. Setiap Minggu dia harus pergi ke Surabaya menjalani latihan rutin. “Saya akui untuk menjadi Paskibarka dibutuhkan kesabaran dan mental yang kuat,” tambah dia.
Amanda juga mengatakan, memang latihan di Grahadi Surabaya sungguh sangat melelahkan, karena dia dituntut memiliki fisik dan stamina yang kuat. Setiap latihan dia harus lari 12 menit. Bahkan, jika mengalami kesalahan sedikit, maka sanksi push up atau lari telah menanti.
Di sisi lain, menjadi anggota Paskibraka banyak pantangannya. Kini dia dilarang melakukan aktivitas ekstrakurikuler di sekolah. Bahkan, dia nyaris gugur gara-gara kaki kirinya terkena knalpot pada awal Juni lalu. “Saya juga heran siapa yang memberitahu kalau kaki saya melepuh kena knalpot,” ucapnya sambil tersenyum.
Kini dia dituntut menghilangkan luka bekas kanlpot tersebut. Selain itu, dia juga dituntut menjadi seorang yang mandiri, merelakan waktunya mengikuti les privat kepribadiaan. Apalagi dia punya obsesi menjadi Tim Delapan atau tim inti. “Saya wakil Malang harus bisa mengambil peran dalam Paskibraka nanti,” ujar gadis yang menjadi Duta Pemuda Pelopor Indonesia 2010 di Jerman.
JPNN
Baca juga :
Komentar :