Thursday, February 9, 2012 16:57 WIB


cara diet sehat


Nanang Suryadi, Dosen FE UB yang Hasilkan Ribuan Puisi-Cerpen

Oleh pada Thursday, March 11, 2010, 6:55
Kategori Profil ada 0 Tanggapan .

iklan murahiklan murah

cara diet sehat

Seorang sastrawan tidak mengenal latar belakang pendidikan, budaya, agama, dan etnis. Kiai, birokrat, pengusaha, politikus, akademisi pun bisa menjadi sastrawan. Salah satunya adalah Nanang Suryadi. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (UB) ini lebih dikenal sebagai sastrawan daripada aktivitasnya sehari-hari di kampus.

Penampilannya cukup sederhana. Sekilas orang tidak mengira jika Nanang adalah seorang akademisi. Tepatnya sebagai Pembantu Dekan Fakultas Ekonomi UB. Namun gaya dan penampilannya lebih menonjol sebagai seorang seniman atau penyair.

Di dunia sastra puisi, nama Nanang memang masih tenggelam di bawah Saptadi Djoko Damono, W.S. Rendra, Zawawi D. Imron, Goenawan Mohammad, Chairil Anwar. Namun dari sisi karya puisi sebenarnya tidak kalah. Karena lebih dari seribu judul puisi dan cerpen yang telah lahir dari tangan kreatifnya.

Puisi-puisi itu sudah tersebar di media massa dalam dan luar negeri. Di antaranya, dimuat secara rutin di koran Bahana (Brunei Darussalam), Jurnal Perisa (Malaysia), dan hampir di seluruh media dalam negeri. Ribuan judul puisi itu pun sudah terkumpul dalam 18 buku dari berbagai penerbit.

Antara lain, Sketsa, Sajak di Usia Dua Satu, Orang Sendiri Membaca Diri, Cermin Retak, Tanda, Interupsi, Kebangkitan Nusantara, dan beberapa buku lainnya. “Semua karya puisi itu saya buat sejak SMA hingga kini,” kata Nanang Suryadi ditemui di ruang kerjanya.

Jiwa seni yang mengalir dalam diri Nanang diawali sejak kelas 5 SD di Pulomerak, Serang, Banten. Saat itu dia sudah cukup senang membaca buku dongeng. Bahkan, dalam setiap minggu, dia kerap meminta dibelikan buku sastra dan puisi anak-anak.

Pergumulan dengan dunia puisi kian intens saat masuk di SMP. Buku-buku karya budayawan terkenal seperti Kahlil Gibran, Darmanto Jatman, dan W.S. Rendra, saat itu sudah dilahapnya. Bahkan, dia pun sudah berani membuat puisi sendiri dan dibaca sendiri di depan para guru dan rekannya dalam setiap acara.

Gairah seni terus mengaliri jiwa suami Kunti Hastorini ini. Duduk di bangku SMA, Nanang mencoba memberanikan mengirim hasil karyanya itu ke media massa dan langsung dimuat di Republika dan koran Swadesi, koran lokal Jawa Barat.

Saat itu semangat untuk terus berkarya semakin bergelora. Apalagi sebagian rekan-rekannya sudah mulai memanggilnya dengan sebutan penyair. “Bahagia sekali ketika puisi pertama dimuat di koran. Saat itu saya mulai banyak mengisi acara di radio-radio di Jawa Barat,” kenang dia.

Nanang sebenarnya ingin sekali melanjutkan kuliah di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) untuk mendalami ilmu sastra. Namun saat tes masuk dia tidak diterima di IKJ. Akhirnya dia banting setir ke FE UB jurusan manajemen. Namun darah seni tidak memudar.

Bahkan, dia bertemu dengan Akaha Taufan Aminudin, penggerak sastra di Batu. Dari Taufan inilah dia banyak berdiskusi dan mengasah kemampuan puisinya. Hingga lahir ratusan judul puisi saat masih jadi mahasiswa. Dia pun mendirikan Himpunan Pengarang, Penulis, dan Penyair Nusantara.

Di tengah kesibukannya sebagai dosen FE UB sejak tahun 1997 itu, ia masih menulis puisi. Inspirasi menulis datang saat dia membaca sebuah fenomena yang terjadi di masyarakat, diskusi dengan mahasiswa, dan saat sedang berada di kamar mandi. “Inpirasi saya itu bisa datang dari mana saja. Saat mengajar pun kadang muncul inspirasi untuk menuangkan ide dalam bentuk puisi,” ungkap dosen kelahiran 1973 ini.

JPNN

Baca juga :

puisi anak malang, Puisi anak yang malang, puisi tentang anak yang malang, dosen ikj 2012, Kahlil Gibran nusantara

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

iklan murahiklan murah

cara diet sehat



Komentar :