Muliyono tak pernah menyerah dengan kondisi kedua kakinya yang lumpuh sejak usia 5 tahun. Keterampilannya mengukir dan membuat wayang kayu menjadi sandaran hidupnya. Bila kini wayang kayu termakan zaman, Muliyono tetap mendedikasikan 80 persen hidupnya untuk wayang ukiran ini.
Di dinding rumah Muliyono, RT 42 RW 11 Dusun Turus, Desa Trenyang, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, tergantung beberapa wayang kayu. Wayang-wayang itu belum selesai dikerjakan. Ada Hanoman, Bima, Puntodewo, dan beberapa punakawan.
Bentuknya karya Mul, sapaan akrab Muliyono, menyerupai wayang kulit. Hanya bahannya dari kayu. Ukurannya sekitar 50 cm x 25 cm dan tebal 1-2 centimeter.
Untuk membuat sebuah Hanoman dari bahan kayu Mahoni, Mul mengatakan sama sulitnya saat membuat karakter tokoh Bima. Butuh ketelatenan karena tekstur ukiran di kedua wayang itu paling njlimet. Terutama ukiran “pakaian” yang dikenakan para tokoh pewayangan tersebut.
“Dibanding tokoh pewayangan lainnya, tokoh Bima dan Hanoman itu yang paling mahal. Ukirannya banyak,” kata Mul sambil menyebut angka Rp 200 ribu untuk Bima dan Rp 175 ribu untuk Hanoman.
Dengan kedua kaki yang telah lumpuh, pemuda 35 tahun ini sudah lebih dari 16 tahun menjadi perajin wayang kayu. Tepatnya semenjak 1994 silam. Hingga kini, Mul setia menjadi pembuat wayang kayu meski masyarakat sudah jarang mengenal hasil keterampilannya itu.
Dia juga tetap bertahan menjadi perajin wayang kayu meski beberapa warga dusun yang dulunya juga menjadi perajin, telah meninggalkan profesi tersebut. Itu karena sudah jarang masyarakat daerah lain atau dalang yang memesan wayang kayu.
“Setahu saya yang buat wayang dari kayu tinggal saya saja. Pak Hasyim yang dulu juga membuat wayang kayu, sekarang tidak pernah membuat lagi,” kata lajang asli Dusun Turus ini. Hasyim adalah tetangga Mul.
Awal mula Mul terjun membuat wayang kayu sekitar tahun 1993. Wayang kayu saat itu dibutuhkan karena ada banyak dalang wayang kayu. Seingat Mul, dia memasok kebutuhan wayang pada seorang dalang di Kota Blitar. Namun beberapa tahun kemudian, produksinya tersendat karena dalang wayang kayu sudah tak ada lagi di Blitar. “Entah ke mana. Tahu-tahu sudah tidak pernah pesan lagi,” kata Mul.
Meski harus kehilangan pasar para dalang, Mul mendapatkan rejeki lain. Tahun 1995-1998, kerajinan wayang kayu banyak diminati orang. Masyarakat membeli wayang kayu untuk koleksi atau suvenir. Utamanya para turis mancanegara yang menyukai wayang dari kayu Mahoni ini.
Mul merasakan pada tiga tahun itu. Kala itu kerajinan wayang kayu miliknya sempat dipesan banyak orang. Bahkan sampai dikirim ke Bali. Bojonegoro dan beberapa kota besar lainnya. Sampai-sampai dia punya tujuh orang pekerja untuk memenuhi pesanan.
“Baru setelah Pak Harto lengser, pesanan menyusut. Dan pesanan terus menghilang setelah bom Bali pertama,” kata Mul. “Sekarang masih ada saja pesanan. Tetapi jarang sekali. Sebulan belum tentu ada,” sambungnya.
Setelah wayang kayu tak lagi populer, pria yang belajar membaca dan menulis secara otodidak ini harus mencari penghidupan lain untuk bertahan hidup. Dalam tiga bulan terakhir, Mul bekerja sebagai tukang ukir di sebuah toko mebeler. Dia juga mengambil kesempatan itu untuk belajar ukiran khas Jepara.
Menggunakan sepeda angin modifikasi yang dikayuh menggunakan tangan, tiap pagi Mul menyusuri jalan raya sejauh 7 kilometer menuju toko mebel di Desa Jatiguwi, Sumberpucung. Dia tak lagi bisa mengandalkan wayang kayu sebagai satu-satunya sumber penghidupan. “Saya harus punya alternatif. Wong pesanan wayang sudah sepi. Saya ngukir di mebel,” kata Mul.
Tetapi, Mul mengaku 80 persen hidupnya tetap didedikasikan untuk membuat kerajinan tradisional ini. Dia bercita-cita mengumpulkan modal dan mempunyai sepeda motor modifikasi. Dengan sepeda motor itu, maka dia bisa kembali mempromosikan kerajinan buatan tangan itu.
Dia juga nyales alias menjajakan sendiri wayang kayu buatannya ke beberapa toko. Sehingga kerajinan asli Kabupaten Malang ini bisa dihidupkan kembali.
Anak keempat pasangan Amir dan Rati (almarhum) ini menganggap membuat wayang kayu adalah sebuah pekerjaan mencari rejeki sekaligus syiar moral. Mul pun berjanji akan konsisten membuat kerajinan ini meski saat ini harus berbelok arah karena tuntutan hidup.
“Wayang itu perlambang. Kadang kita bisa sampaikan perlambang-perlambang dari tokoh wayang pada pemesannya. Hidup lak ibadah tho Mas,” pesan pria yang cacat karena terjatuh saat bermain di dalam rumah ini.
JPNN
Baca juga :
Komentar :