Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Kota Malang sukses menjadi juara I tingkat nasional Pemilihan Mitra PAUD 2010 Kemendiknas RI. Kesuksesan itu tak lepas dari sosok Mike S. Arifin, ketua Himpaudi Kota Malang. Bagaimana perjuangannya?
SENYUM bahagia terpancar di wajah Mike S. Arifin. Senyumnya juga cerah. Kebahagiaan itu makit tampak saat ia menunjukkan piagam yang diraih Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Kota Malang yang ia ketuai.
Tangan kanannya menenteng piagam penghargaan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, sedang tangan kirinya menenteng trofi juara I Tingkat Nasional Pemilihan Mitra PAUD 2010. Mike seolah masih terbayang puncak kegembiraannya pada 23 Juli lalu.
Saat itu, Jumat 23 Juli pukul 19.00. Balai pertemuan Kantor Direktorat Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Kemendiknas sudah disesaki puluhan Ketua Himpaudi dari seluruh provinsi se-Indonesia. Saat pembawa acara menyebut nama Mike sebagai juarai I tingkat nasional, semua mata tertuju pada perempuan kalem itu.
Puluhan peserta yang berhasil ”disingkirkan” itu pun langsung memberikan ucapan selamat. “Waktu itu yang menyerahkan piagam penghargaan Pak Hamid Muhammad, direktur PNFI,” kenang ibu dua anak yang juga kepala KB-TK-TPA Anak Saleh Malang ini.
Prestasi gemilang yang diukir Mike itu menjadi sejarah baru Himpaudi Kota Malang. Sejak berdiri 2002 silam, Himpaudi tak pernah bertengger di kancah nasional. Paling banter, hanya mampu menjuarai tingkat regional Jatim. Karenanya, Mike dan seluruh jajaran pengurusnya di Himpaudi Kota Malang, tak pernah membayangkan bakal mengukir sejarah baru.
Sejarah ini menjadi kado ulang tahun ke delapan Himpaudi. Label juara I nasional itu juga menjadi penghargaan terakhir yang diraih Himpaudi Kota Malang. Dalam kontes pemilihan mitra PAUD mendatang, Kota Malang tidak mungkin mendapatkan juara tingkat nasional lagi.
Jangankan berharap menjadi juara dan membawa pulang piala, ikut menjadi peserta pemilihan Mitra PAUD di Tingkat Nasional saja sudah dilarang. Itu sesuai dengan kebijakan Direktorat PNFI Kemendiknas. ”Yang sudah lolos ke tingkat nasional, tidak boleh ikut pemilihan lagi. Jadi ini juara I nasional pertama kali dan terakhir,” kata Mike seraya mengenakan jilbab putih yang dibalut seragam cokelat di ruang kepala TK-TPA Anak Saleh kemarin.
Saat ikut lomba, Mike sempat waswas. Untung saja, Kota Malang yang sudah dipercaya mewakili Jatim menyabet juara I. Jika hanya mendapatkan juara II, III, atau juara harapan, sepanjang sejarah Kota Malang tidak akan menjadi juara I. Sebab, direktorat sudah memblokir semua Himpaudi yang sudah mendapatkan juara nasional.
“Untung saja kami tidak juara harapan. Bisa repot. Soalnya semua Himpaudi yang sudah lolos ke tingkat nasional tidak boleh ikut lagi,” kata perempuan kelahiran Surabaya, 18 Desember 1965 ini.
Sebelum menjadi juara I nasional, Mike sudah bertarung dengan Himpaudi tingkat Jatim. Masing-masing Himpaudi dari kabupaten atau kota diminta mengirimkan proposal ke Jatim. Proposal pertengahan Mei lalu berisi penjelasan program, kegiatan Himpaudi, eksistensi lembaga PAUD se-Kota Malang, tenaga pendidikan dan siswa, serta dukungan dari Dinas Pendidikan (Diknas) Kota Malang. “Yang paling lengkap, itu menjadi juara I Jatim dan dikirim ke nasional mewakili Jatim,” jelas Mike.
Tak mudah bagi Mike membawa Himpaudi menjadi juara I nasional. Mike harus menunjukkan bahwa proposal yang diajukan bersifat objektif. Artinya, ia harus menghidupkan seluruh kegiatan PAUD se-Kota Malang. Internal kepengurusan Himpaudi juga harus terus berjalan. Termasuk mampu merangkul diknas untuk mendukung setiap kegiatannya.
Tentu saja, itu bukan pekerjaan mudah. Buktinya, sejak Himpaudi berdiri delapan tahun silam, baru tahun 2010 ini nama Kota Malang terukir dalam piala pemilihan Mitra PAUD 2010. Selama ini Kota Malang hanya puas bertengger di Jatim saja. “Dulu pernah ikut di Jatim, tapi Malang gak dapat juara,” katanya.
Nama Himpaudi Kota Malang yang terukir dalam piagam pernghargaan itu juga menunjukkan bahwa ratusan lembaga PAUD di Kota Malang eksis dalam kegiatan belajar mengajar. Sebab, proposal yang diajukan Mike dengan menjelaskan kondisi objektif PAUD se-Kota Malang sudah lolos verifikasi diknas provinsi dan Direktorat PNFI Kemendiknas.
Kini, Mike berharap agar eksistensi lembaga PAUD se-Kota Malang tetap dipertahankan. Meski tidak bisa mengikuti lomba pemilihan mitra PAUD tingkat nasional lagi, namun tetap harus mempertahankan sinergitas kegiatan belajar mengajar. Lima tahun mendatang, Mike ingin Himpaudi Kota Malang diperkenankan mengikuti kontes pemilihan mitra PAUD.
Kabid Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Diknas Kota Malang Siti Ratnawati pun merasa bangga dengan prestasi Himpaudi Kota Malang. ”Penghargaan sebagai juara I nasional memang membutuhkan kerjasama antara Himpaudi dengan diknas, dan itu sudah kami lakukan. Tidak semua daerah, diknasnya mendukung Himpaudi,” tutur Siti Ratnawati.
Salah satu bentuk dukungan diknas adalah melatih guru PAUD agar mempunyai pola ajar ideal. Salah satunya adalah diknas ingin membuat para guru PAUD memahami psikologis peserta didik sehingga sistem pembelajarannya tidak terkesan memaksa. ”Anggaran pembinaan guru PAUD 2010 ini Rp 50 juta lebih,” ucap Siti.
JPNN
Baca juga :
Komentar :