Skateboard memiliki banyak sisi. Tak hanya sebagai olahraga, kehadirannya juga menjadi budaya dan gaya hidup anak muda. Malang tak luput dari kegandrungan akan skateboard. Salah satunya bisa dilihat dari organisasi yang menamakan dirinya MSS (Malang Skateboard Scene).
Senin 21 Juni lalu, Jalan Panggung yang biasanya sepi menjadi ramai. Anak-anak yang sebagian besar tampil dengan dandanan ala junkies berkumpul di situ. Umumnya mereka memakai t-shirt yang dipadukan dengan celana jins ketat dan memakai sepatu kets. Tak sedikit di antara mereka yang tampil lebih gaya dengan jaket jumper serta penutup kepala seperti topi maupun kerpus.
Meski dandanan tak sepenuhnya seragam, ada satu hal yang membuat mereka sama. Apalagi kalau bukan sebuah papan kayu dengan grip tape (lapisan ampelas) di bagian atas. Sementara di bagian bawahnya terpasang empat roda berukuran kecil. Papan itu lazim disebut skateboard.
Anak-anak muda penggila skateboard yang biasa disebut skater terlihat asyik bermain dengan papan luncur. Ada yang sekadar berjalan menyusuri jalanan beraspal. Ada pula yang beraksi dengan melakukan berbagai manuver. Yang lazim dilakukan adalah ollie, yakni tubuh meloncat bersama-sama papan luncur.
Ada pula yang melakukan kickflip. Dalam aksi ini, skater memutar papan sebanyak satu kali atau lebih saat melakukan lompatan. Manuver boardslide, yakni meluncur di atas handrail (seperti rel pada kereta api), juga dilakukan. Aksi yang terakhir ini dilakukan oleh skater yang sudah cukup mahir.
Para skater yang sedang menyerbu Jalan Panggung itu dari berbagai komunitas skateboard di Malang Raya. Komunitas itu antara lain Delima, Mosko8w, Panggung, SBS, Unmuh, Batu, dan Velo. Dan, semua komunitas adalah anggota Malang Skateboard Scene (MSS). Organisasi ini menjadi wadah bagi para skater se-Malang Raya.
Mereka sengaja berkumpul pada hari itu untuk memperingati Hari Skateboard Sedunia. Ya, sejak 2003, tanggal 21 Juni disepakati sebagai Hari Skateboard Sedunia.
Menurut Ketua Umum MSS Adde Yuliar, organisasinya itu berdiri 13 Desember 2009. Sebelum MSS berdiri, pada 2007 sudah ada organisasi sejenis di Malang Raya, yakni Malang Skateboard Association (MSA). “Tapi organisasi ini tidak jelas lagi rimbanya,” kelakarnya. Karena itu, dia menggagas pembentukan organisasi baru dengan nama MSS.
Layaknya organisasi lain, MSS punya motto. Yakni skateboarding, friendship, dedication, and achievements. Jika skateboarding merujuk pada olahraga ekstrem yang mereka lakukan, friendship adalah upaya untuk meningkatkan kebersamaan di antara para skater lintas komunitas. Dedication diartikan sebagai dedikasi atau loyalitas para skater terhadap kemajuan skateboard. Sedangkan achievement berupa prestasi yang mengharumkan organisasi maupun Kota Malang. “Kami tidak ingin organisasi ini hanya sekadar kumpul-kumpul atau senang-senang, tapi juga harus bisa menunjukkan prestasi,” ungkap Adde.
Prestasi ini juga sudah dibuktikan beberapa anggota MSS. Salah satunya Ozias Widiarto, mahasiswa semester 7 Desain Komunikasi Visual (Dekomvis) UM. Prestasi terbarunya adalah meraih peringkat lima amatir kejuaraan nasional Volcom Stone Wild in the Park pada 13 Juni lalu. Level amatir merupakan level tertinggi di Indonesia saat ini, di atas kelas pemula dan menengah.
Ozias yang mengaku mulai belajar skateboard sejak 2002 mengatakan, dirinya pernah pula menjadi Best Skater of the Year pada 2004 dalam even yang digelar Volcom. Bahkan, pada kejuaraan Bali Action Sport Extreem (BASE) 2008, ia meraih peringkat 20 dari 40 peserta. “Tidak buruk-buruk amat mengingat lawannya berasal dari Prancis, Brazil, dan Australia,” ungkapnya.
Meski sering mengikuti kejuaraan dan mendapatkan gelar juara, bukan berarti Ozias luput dari kesalahan hingga berakibat cedera. Februari lalu, dia mengalami patah tangan saat melakukan cek alat dalam kejuaraan di Surabaya. “Sampai saat ini tangan saya masih dibalut gips,” ujarnya. Meski begitu, dia tidak kapok untuk terus bermain skateboard.
Soal cedera memang sudah menjadi konsekuensi bagi skater. Mereka sudah paham bahwa olahraga ekstrem itu pasti punya risiko tinggi untuk cedera. Rizki Yanuar, misalnya. Siswa kelas 2 SMPN 4 yang terhitung masih pemula ini mengaku tidak takut dengan risiko cedera. “Justru itu (risiko cedera) yang bikin olahraga ini semakin terlihat keren,” kelakarnya.
Terkait dengan anggapan orang bahwa skater identik dengan hura-hura, perilaku tidak taat aturan, bahkan dekat dengan minuman keras maupun narkoba, Adde menyanggahnya. “Tidak bisa dipungkiri, ada pula yang seperti itu,” ujarnya. Namun, Adde menegaskan bahwa yang seperti itu disebut dengan skater gadungan atau poser. “Kalau skater sejati bermain skateboard dengan sungguh-sungguh, bukan gaya-gayaan,” tegasnya.
Ia menambahkan, jika skater mabuk-mabukan atau memakai narkoba, permainannya tentu tidak akan optimal. “Tujuan awal kami bermain skater adalah untuk melatih fisik serta mental,” tegasnya.
Terkait masa depan organisasi ini, Adde berharap agar MSS tetap eksis. Selain sering mengadakan kompetisi maupun pelatihan untuk para pemula yang biasanya dilakukan sebulan sekali, MSS punya satu impian, yakni skatepark: lahan tempat bermain para skater. “Dengan adanya skatepark, minat orang untuk belajar skateboard semakin besar,” ujarnya.
Selain itu, para skater bisa berlatih di tempat yang lebih layak dan berkualitas. Adde mengungkapkan, menurut informasi yang dia dengar, skatepark rencananya akan dibangun di area GOR Ken Arok. “Sayangnya, sampai sekarang saya belum tahu kapan itu akan terealisasi,” kata dia. Adde berharap, skatepark segera dibangun agar olahraga ini bisa lebih berkembang di Malang.
JPNN
Baca juga :
Komentar :