Menjadi pengamen banyak dilakoni anak muda dan selalu identik dengan lampu merah. Tapi tidak dengan kelompok pengamen yang tergabung dalam Kidung Panglipur pimpinan Sukadi. Mereka adalah pengamen tua yang sangat memperhatikan penampilan dan kualitas bermusik sejak berdiri 41 tahun lalu.
PETIKAN gitar, cello, dan gitar kentrung berpadu apik mengiringi lagu Bengawan Solo yang dimainkan empat lansia di pinggir Jl Raya Oro-Oro Ombo, Kota Batu, kemarin. Sukadi, 69, dengan piawai memetik gitar kentrung.
Tak kalah semangatnya, Herman, 72, sibuk memainkan cello ukuran sedang yang dikalungkan. Di sebelahnya, istri Herman, Sriani, 61, juga piawai memainkan gitar kentrung. Begitu juga Muawi, 41, memetik gitar dengan penuh penghayatan. Perpaduan alat musik itu mengalunkan irama musik keroncong yang begitu begitu khas.
Beberapa orang yang sempat melihat penampilan mereka langsung memberikan lembaran uang, mulai Rp 1.000 – Rp 10 ribu. Setelah memainkan dua lagu, mereka pun pindah tempat dengan jalan kaki menyusuri gang dan toko-toko di kawasan tersebut.
Ya, seperti itulah aksi para seniman tua itu. Mereka itu merupakan seniman yang tergabung dalam kelompok Kidung Penglipur. Kelompok ini cukup konsisten, karena sejak berdiri 1969 lalu, mereka berada di jalur musik keroncong. “Bagi kami seni untuk penghidupan. Karena itu kami tetap seperti sekarang ini (mengamen, Red),” ujar Sukadi, ketua kelompok Kidung Panglipur yang diamini Herman dan Muawi.
Kakek dua cucu yang tinggal di Jl Kawi Kepanjen ini menceritakan, kesukaannya terhadap musik muncul sejak dia lulus dari Sekolah Rakyat di Banyuwangi. Dia sering bergerombol dengan teman-temannya dengan bermain gitar dan berbagai alat musik lainnya.
Pria kelahiran Mojokerto tersebut tidak pernah belajar musik secara khusus. Lalu pada 1968, Sukadi muda bersama Herman mulai mengembara ke Jogjakarta, Solo, dan berbagai daerah di Jawa Tengah. Dia juga sering bertemu dengan pencipta lagu-lagu keroncong, salah satunya almarhum Gesang.
Sejak itu, dia telah menetapkan pilihan hidupnya dengan mengandalkan kepiawaiannya bermain musik, meskipun harus mengamen keliling kampung. Akhirnya pada 1969 dia dipertemukan dengan Sriani (istri Herman) yang saat itu tinggal di Oro-Oro Ombo, Batu. Sriani merupakan seniman musik keroncong, namun belum banyak mendapat job di luar kota.
Akhirnya pada 1969 mereka bertiga bergabung dan mendirikan kelompok ini. Dari sinilah, ketiganya kemudian melalang buana di Malang Raya untuk mengamen sekaligus melestarikan musik keroncong. “Untuk mengamen kami sengaja mengkhususkan pada musik keroncong,” tambah Sukadi.
Alasannya, musik keroncong memiliki keindahan yang berbeda. Sayangnya, keberadaannya kini semakin tergeser dengan musik-musik pop. Untuk itu, dia juga bertekad menjaga musik keroncong agar tidak hilang ditelan zaman.
Pada awal terbentuknya kelompok ini, setiap hari ketiganya mengamen dari toko ke toko di seluruh wilayah Malang Raya, terutama Kota Malang, Kepanjen, dan Kota Batu. Pada 1990-an, mereka mendapat tambahan personel, yakni Muawi.
Pada saat itu pula, aktivitas mengamen mulai dikurangi. Yang biasanya dilakukan tiap hari, akhirnya dilakukan tiga kali dalam seminggu. Hal ini dilakukan karena mereka sudah tua. Selain itu, mereka mulai mendidik orang-orang yang eksis di jalur keroncong.
Soal tata cara mengamen, Sukadi dan teman-temannya tampil beda. Jika dibandingkan pengamen pada umumnya yang cenderung berdandan ala kadarnya, kelompok ini mewajibkan semua personelnya berdandan rapi meski bajunya biasa.
Cara itu untuk meghormati seni itu sendiri dan menghormati orang yang didatangi. Maka tak heran, selama mengamen mereka jarang ditolak. Malahan banyak yang justru minta tambahan lagu. “Kalau cara kita baik, musiknya bagus, orang yang didatangi juga senang,” tuturnya.
Berapa penghasilan tiap kali keliling? Sukadi mengungkapkan, dalam sekali keliling kelompoknya mampu mengumpulkan minimal Rp 150 ribu. Malahan, kalau sedang beruntung, mereka diundang ke rumah makan untuk menghibur tamu.
Biasanya jika sudah begini, penghasilan bisa melimpah lagi. Banyak tamu yang meminta tambahan lagu. Yang paling sering diminta adalah Bengawan Solo, Jembatan Merah, Baju Biru, serta Dewi Murni ciptaan Gesang. Dan ketika mereka memberi tambahan lagu, imbalannya juga cukup besar. Banyak yang memberi lembaran Rp 50 ribu.
Ditanya soal pengalaman bermusik, Sukadi membeberkan jika dia pernah menjadi pengiring Trenggono, ayah Krisdayanti, untuk ikut manggung di luar Jawa. Selain itu, dia juga sering tampil di RRI termasuk tampil di festival Malang Kembali.
Selain mengamen, kelompok ini juga sering menerima undangan di hotel maupun pesta pernikahan. Saat ini mereka memiliki jaringan lewat 12 seniman keroncong yang tersebar di beberapa daerah. Ada yang di Batu, Kepanjen hingga Kediri. Jika ada undangan dan butuh banyak personel, biasanya yang dari luar kota bergabung.
Tetapi untuk yang rajin mengamen keliling adalah mereka berempat ini. Menariknya, usai mengamen, biasanya mereka numpang tidur di rumah salah satu di antara mereka. Untuk diketahui, Muawai dan Sukadi saat ini tinggal di Kepanjan dan Herman beserta istrinya tinggal di Oro-Oro Ombo.
“Kalau kebetulan ngamen di Kota Batu, ya akhirnya kami juga nanti istirahat di rumah Herman. Baru besok saya pulang ke Kepanjen,” tambah Muawai, anggota termuda di kelompok ini.
Yang menarik, selain mahir memainkan musik, Sukadi juga lihai membikin alat-alat musik. Seperti gitar, biola, cello dan sejenisnya. Dia juga sering menerima pesanan alat-alat musik itu. “Semuanya saya pelajari sendiri, sedikit demi sedikit,” ucapnya. Selain itu, Sukadi juga mahir bermain campursari, kentrung, dangdut hingga pop. Kakek yang rambutnya sudah memutih ini juga pintar memainkan seni jaran kepang, ludruk, dan musik tradisional lainnya.
JPNN
Baca juga :
Komentar :