Berawal dari kegelisahan karena masyarakat kerap menghujat Departemen Agama (Depag), sekarang Kemenag RI, sebagai sarang korupsi, Sri Istuti Mamik tertantang untuk melakukan “perlawanan”. Bukan melawan secara fisik, tapi dituangkan dengan menulis naskah mars yang kini telah menjadi lagu resmi di lingkungan Depag.
Nama Sri Istuti Mamik lebih dikenal sebagai pendidik. Maklum selama 35 tahun, ia meniti karir sebagai guru. Karir puncaknya sebagai kepala MTsN I Jalan Bandung dan pensiun pada Desember 2009. Di tengah kesibukannya sebagai pendidik, ternyata ia telah menyalurkan bakatnya sebagai pencipta lagu, khususnya yang bertema keagamaan.
Dua lagu karyanya secara resmi telah dijadikan lagu resmi di lingkungan depag. Yakni Mars Karyawan Depag dan Mars Porseni Depag. Karena menjadi lagu resmi, di setiap even yang diselenggarakan depag, lagu karya Mamik inilah yang dinyanyikan.
“Saya menciptakan lagu itu juga tidak pernah berpikir kalau ternyata bisa diterima depag, apalagi sampai jadi lagu resmi,” kata Mamik.
Proses pembuatan Mars Karyawan Depag itu sendiri juga tanpa sengaja. Pada 2004, hampir semua media massa memberitakan tentang korupsi di lingkungan korps itu. Sebagai pegawai yang mengabdi di depag, Mamik merasa terusik. Ia tidak mau berdiam diri. ”Harus ada upaya untuk mengubah citra negatif ini,” pikirnya kala itu.
Karena Mamik punya hobi menulis lagu dan bernyanyi, maka ia membuat oret-oretan naskah lagu di sela-sela konsentrasi menjadi kepala sekolah MTsN 1. Ia pun membuat naskah lagu yang intinya ingin menunjukkan bahwa pegawai depag konsisten menjaga komitmen ikhlas dalam beramal. Juga ada bait lagu yang menyatakan pegawai depag anti-perilaku korupsi.
Seperti bait lagu berbunyi; Kami Karyawan Departemen Agama dalam bertindak harus percaya diri, Ikhlas Beramal adalah semboyan kami, dan kami komitmen untuk tidak korupsi. Bait lagu ini menjawab tudingan masyarakat yang waktu itu sangat mendiskreditkan depag.
Kebiasaan Mamik membuat naskah lagu ini sudah dilakukan cukup lama. Saat kesepian, ia memang kerap menulis corat-coret bait lagu yang berkisah tentang anak, keluarga, atau lingkungannya. “Kebetulan waktu itu depag juga belum punya lagu mars, maka sekalian saja saya buat teks yang sesuai dengan motto depag ikhlas beramal serta ada pesan tentang anti-korupsi,” terang pendiri Lembaga Pendidikan Surya Buana ini.
Mamik memang tidak bisa bekerja sendirian. Setelah ia menulis naskah berikut nadanya, ia butuh ahli di bidang not dan aransemen. Diajaklah Kholis Widodo (guru MTsN 1) dan Hery Kusdianto (guru MAN 3) untuk membantu. Berkat bantuan dua guru seni ini, lagu mars karya Mamik nyaris sempurna.
Namun persoalan lain menyusul. Yakni, kesulitan mencari beberapa penyanyi yang suaranya pas dengan nada mars itu. Dari beberapa masukan, akhirnya dipilihnya puluhan siswa SMAK Santo Albertus (SMA Dempo) menjadi pengisi suara. Karena saat itu paduan suara SMAK Santo Albertus terkenal cukup bagus. “Setelah kami rekaman di studio, saya bawa hasil rekaman itu ke Kantor Depag RI di Jakarta,” kenang ibu enam putra ini.
Setahun berselang, wanita kelahiran 1948 ini tidak pernah tahu nasib karya yang ia berikan ke Depag RI itu. Ia baru tahu karyanya menjadi lagu resmi depag saat ia diundang ke Jakarta pada 2005. Undangannya pun tidak ada hubungannya dengan lagu tersebut. Tapi untuk mendampingi Ria Ayu Pramudita, siswi MTsN 1 yang meraih medali emas di even IJSO (International Junior Science Olympiad).
“Saat itulah sebelum ada upacara penghargaan lagu saya dinyanyikan. Waktu itu saya begitu bangga sekali, apalagi juga ada Menteri Agama Maftuh Basuni,” kenang Mamik.
Yang membuatnya bangga lagi, selain namanya disebut sebagai pencipta mars itu oleh pembawa acara, usai upacara dirinya mendapat ucapan selamat dari pejabat depag yang kebetulan kenal dengan dirinya. Mereka juga salut karena dalam lagu itu juga menyinggung soal pegawai depag yang sudah komitmen antikorupsi. “Itulah kepuasan saya sebagai pencipta lagu,” tandas mantan guru SD Muhammadiyah 1 ini.
Dari lagu itu, Mamik memang tidak menerima sepeser pun uang. Hanya kebanggaan yang bisa dirasakan saat lagu itu diakui oleh sesama karyawan depag lainnya.
Karena sukses membuat Mars Karyawan Depag itu, dua tahun berselang, Mamik mendapat job baru. Depag RI pada 2006 memesan lagu pada Mamik untuk dijadikan Mars Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) di lingkungan depag. Karena telanjur dapat kepercayaan, Mamik pun tak kuasa menolak. Padahal jatah waktu yang diberikan hanya lima hari. Karena jadwal Porseni waktu itu sudah mepet.
Ia pun kembali minta bantuan Kholis, Hery, dan Gabriel Mado, pembina musik SMAK Santo Albertus untuk mengaransemen lagunya. Pengisi suara dalam rekaman yang ia kirim ke Jakarta juga dari paduan suara SMAK Santo Albertus. “Lima malam saya ngebut membuat naskah. Alhamdulillah bisa selesai sesuai yang diinginkan depag hingga kini juga menjadi lagu resmi Porseni,” kata Mamik sembari menunjukkan lagu karyanya.
Kini, meski sudah pensiun dari tugas kedinasan, ia berjanji akan terus berkarya. Selain konsisten membina santri di Pondok Modern Surya Buana, ia akan terus berkarya membuat lagu. Namun ia konsentrasi pada lagu anak-anak. “Saya sedih mendengar lagu anak-anak sekarang karena tidak ada muatan agama. Saya ingin sekali membuat banyak lagu anak yang menanamkan nilai ruhani,” tekad alumnus IKIP Malang, kini UM ini.
JPNN
Baca juga :
Komentar :