Thursday, February 9, 2012 16:19 WIB


cara diet sehat


Ganif Trioko, Penggila Perabot Rumah Tangga Antik

Oleh pada Monday, July 26, 2010, 21:49
Kategori Profil ada 0 Tanggapan .

iklan murahiklan murah

cara diet sehat

Kemunculan furniture dengan desain modern tak membuat Ganif Trioko berpaling. Dia mampu menjaga “kesetiaan” menggunakan perabot rumah tangga kuno. Setiap sudut ruang di rumahnya ada furniture yang sudah berumur puluhan tahun dari hasil perburuannya.

Ruang kerja Koko -panggilan Ganif Trioko- di Jl Ki Ageng Gribig 18 nyaris tak pernah sepi tamu. Baik karyawannnya yang akan bicara soal kerja, customer, maupun rekan kerja. Duduk di ruang kerja yang hanya berukuran sekitar 2 x 3 meter itu, dia tampak enjoy berlama-lama.

Usut punya usut, di ruang kerjanya tersebut ada beberapa koleksi furniture kuno yang antik. “Rasanya adem kalau di ruang itu ada perabot antik. Ini meja yang saya gunakan barang antik lho,” ucap pemilik bengkel cat mobil ini.

Sekilas secara fisik tidak ada yang berbeda pada meja kerja Koko berukuran 1,2 x 1,5 meter tersebut. Desainnya sederhana dengan warna cat coklat tua. Tapi setelah Koko mempersilakan Radar untuk menyaksikan aksi dua anak buahnya mengangkat meja, baru ada yang tidak lazim.

Dengan sekuat tenaga kedua pekerjanya mengangkat meja, tapi hanya bergeser sedikit. “Wah, ini berat sekali. Empat orang saja belum tentu kuat kok. Kayunya jati asli. Beratnya ada kalau satu setengah kuintal,” ungkap Koko.

Meja kerja Koko hanya satu koleksi dari furniture antik. Lebih dari 70 item barang-barang antik menghias sudut ruang rumahnya. Kebetulan rumah yang juga dijadikan tempat usaha bengkel memang penuh dengan perabot antik. Sejurus kemudian Koko mengajak untuk melihat ke setiap ruangan rumahnya..

Saat menjelajah semua ruangan, hanya dengan hitungan jari perabot yang keluaran masa kini. Saat singgah di ruang tidur misalnya, tempat tidur berukuran 160 x 200 sentimeter terlihat tidak jauh berbeda dengan meja di ruang kerjanya. Desain simple. “Beratnya ini hampir dua kuintal. Umurnya dengan usia saya lebih tua tempat tidur ini,” ungkap ayah dua anak kelahiran 10 November 1963 ini.

Perabot lain yang memenuhi ruang tidurnya seperti kaca rias, model gantungan jas, dan topi yang terlihat dengan desain tempo dulu. Tampak juga perabot lain berupa kursi santai berarsitektur kuno biasa digunakan untuk melihat televisi. Di kursi kesayangannya itu, Koko terkadang sampai terlelap tidur saking enjoy-nya.

Masuk ke ruang lain, pandangan mata akan langsung berhadapan dengan furniture yang jarang dijumpai di pasaran. Di era sekarang, gaya Koko dalam memenuhi isi ruangan dengan barang-barang antik memang tergolong langka. Dia merupakan pengeculian di antara kebanyakan orang yang cenderung memilih perlengkapan rumah bergaya masa kini.

Dari ruang tamu, ruang tidur anak-anak, ruang makan, sampai teras rumah dipenuhi furniture berusia tua. Ruang tidur depan, ada tempat tidur yang salah satu sisinya dilapisi marmer. Begitu pula meja ruang tamu model atasnya beraksen marmer.

Di dapur juga tidak lepas dari sentuhan barang-barang antik. Meja-meja untuk menyimpan barang pecah belah modelnya juga antik. Kendati penuh barang antik, tapi tata cara penataan sengaja diatur sedemikian rupa. Sehingga meski berada di ruangan yang sempit, furniture-furniture tersebut masih bisa dinikmati. Satu lagi, rumah tinggal Koko bercirikan setiap ruang pasti ditemukan kursi yang bisa digunakan sekadar bersantai.

Kesukaan Koko terhadap benda antik tersebut berawal dari kumpul-kumpul bersama temannya yang kebetulan penyuka barang-barang lama. Salah satu temannya adalah Arief Wicaksono, vice president grade 16 area manager Jatim PT Bank CIBM Niaga Tbk, yang tanpa sengaja menularkan kecintaan terhadap furniture antik.

Pada 2000 lalu, Koko tertarik membeli sepasang meja dan kursi tua. Tanpa disadari begitu ditempatkan di rumahnya, perabot tersebut dirasakan ikut menyejukkan. “Saya kok makin bisa menikmati suasana kalau di rumah. Melihat perabot-perabot yang umurnya sudah tua seperti ada magnet bisa membuat adem,” kata Koko lantas tersenyum.

Mengumpulkan barang kuno-kuno hingga mencapai 70 buah tentu bukan hal mudah. Meski Koko tidak pernah meluangkan waktu khusus untuk mendapatkan barang-barang tersebut, tapi paling tidak dia harus rajin jalan-jalan.

Dari sekadar iseng terkadang dia mendapatkan perabot yang diinginkan. Pernah suatu kali dia pergi ke hajatan saudara yang rumahnya di Mojosari. Tanpa sengaja dia melihat almari milik warga yang kelihatan sudah usang tapi sebenarnya bernilai tinggi. Akhirnya barang tersebut dibeli.

Ada juga yang didapat dari sekitar tempat tinggalnya. Begitu melihat ada perabot yang dianggap unik bergaya kuno, biasanya dia iseng-iseng bertanya kepada sang pemilik. Pembicaraan itu tentu saja mengarah, apakah perabot tersebut dijual atau tidak. Anehnya, si pemilik tidak ada rasa keberatan untuk menjual.

“Sebab barang yang saya lirik itu rata-rata dalam keadaan sudah jelek atau tidak terawat. Barang-barang yang sudah berantakan warnanya itu lantas saya rawat. Saya juga menggunakan tenaga untuk menyulap (membersihkan) tapi tidak mengubah dari bentuk aslinya,” katanya.

Awal mula mengoleksi, Koko merasa heran. Barang-barang yang didapat itu setelah dibersihkan memiliki nilai jual tinggi. Dia mencontohkan, almari tiga pintu yang awalnya hanya dibeli sekitar Rp 1 jutaan, pernah ditawar orang harganya berlipat-lipat. “Semua barang yang saya koleksi ini sifatnya memberi kesenangan. Jadi meski harganya jadi mahal saya tidak menjualnya. Barang-barang ini punya nilai sejarah,” ungkapnya.

Dalam mencari barang-barang antik dia tidak sampai “buta mata”. Misalnya, rela merogoh kocek begitu dalam bahkan mengorbankan keperluan lain. “Saya tidak pernah ngoyo. Jadi, mengalir saja. Kalau ada barang sreg modelnya, ya saya beli. Saya memiliki teman-teman pengepul. Biasanya mereka datang menawarkan kalau menemukan barang bagus,” ucap Koko.

Soal harga barang koleksinya, Koko menolak untuk menyebutkannya. Baginya tidak etis untuk dipublikasikan karena menyangkut bagian dari hobi. Apalagi barang antik yang didapat sebenarnya harga awalnya murah, namun menjadi mahal setelah dirawat. Dia menambahkan, koleksi barang-barangnya hampir 90 persen dibuat pada tahun 1950-1960.

Sejak keranjingan barang-barang antik, dia menanggalkan semua perabot modern. Nyaris tidak ada benda yang merupakan produk zaman sekarang. “Mengoleksi barang kuno itu ada nilai investasinya lho. Semakin tua harganya makin mahal dan dicari banyak orang. Beda kalau barang sekarang, sudah beli mahal, dijual nanti tidak akan laku. Kalau laku harganya akan anjlok,” ungkapnya.

JPNN

Baca juga :

perabot antik, ganif trioko, suci mawarti rias pengantin, perabutan rumah antik kuno, perabutan dapur

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

iklan murahiklan murah

cara diet sehat



Komentar :