Friday, September 10, 2010 9:25 WIB

Ganif Trioko, Membesarkan Bengkel Cat Koko di Malang, dengan Gaul

Oleh web admin pada Monday, March 8, 2010, 18:36
Kategori Profil ada 0 Tanggapan .

Bagaimana mengubah blog WordPress menjadi MESIN UANG yang MEMATIKAN !! Tutorial komplit dilengkapi Software dan Script Siap Pakai SEO Complete Guide for Wordpress Instant Internet Business Ideas

Bagi pemilik mobil di Malang, nama Cat Mobil Koko cukup beken. Tak hanya perorangan, kalangan perbankan hingga perusahaan jadi “pasien” rutinnya. Perusahaan berkaryawan 80 orang ini dibangun dengan modal sandal-jepit-trepes-kate pedhot….

GANIF Trioko tak menyangka nama panggilannya, Koko, bisa jadi “merk” terkenal. Seiring menguatnya bisnis Bengkel Cat Mobil Koko miliknya, nama ini seakan identik jaminan mutu. Setelah usahanya ini kuat, mantan tukang cat ini berani merambah usaha ke perumahan dan koperasi.

Saat ditemui di bengkel miliknya, Jl Raya Ki Ageng Gribig No 18 Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Koko sedang memberi briefing para stafnya. Di kantor berukuran sekitar 2 x 3 meter persegi tersebut terdengar Koko memberikan pengarahan kepada empat staf administrasi sambil menanyai kesulitan mereka.

Tolong kalau memang tidak masuk kerja, apalagi itu ada kepentingan yang penting, tolong komunikasikan dengan baik. Kita ini bekerja satu atap,” kata Koko kepada para karyawannya.

Rutinitas briefing tersebut dilakukan setiap pagi. Setiap harinya, kecuali hari libur atau Minggu, pebisnis ini menjadwalkan dua kali. Pagi pukul 07.00 briefing “kloter” pertama dan 08.00 – 09.00 tahap kedua. Maklum, ada sekitar 80 karyawan yang dibinanya. Namun, hanya bagian-bagian khusus saja yang mendapatkan “sarapan” rutin tersebut.

Kontrol sehari-hari ini sudah jadi kebiasaan, karena bisnisnya biasa bekerja dengan hitungan waktu. Ia harus menjaga, agar semuanya beres. Koko sadar, karena mencapai keberhasilan seperti sekarang dilaluinya dengan kerja amat keras.

Koko sejak kecil sudah bergaul dengan cat. Ketika duduk di bangku SD, Koko kecil terbiasa membantu pekerjaan sang ayah, HM Winardi (almarhum) yang memiliki bengkel pengecatan mobil. Ketika itu, bengkel sang ayahanda berada di kawasan Oro-Oro Dowo, Klojen, Kota Malang. Bengkel cat kecil-kecilan itu yang menghidupi Koko bersama lima saudaranya. “Kebetulan saya sekolah di SD Sang Timur yang masuknya pukul 12.15 sampai sore,” kenang Koko.

Bekal membantu ayah itu jelas mewarnai ketika dia memutuskan membuka bengkel cat sendiri pada 1991 atau 19 tahun lalu. Koko nyaris tak memegang modal. Ayah dua anak ini mengaku bermodal sandal jepit, trepes, wis kate pedot (sandal jepit, tipis, dan sudah mau putus). Ia utang teman-temannya, jumlahnya tak ingat lagi

Koko mengontrak di Jl Danau Singkarak, tahun 1991 lalu. Bengkelnya menggunakan tenda yang didirikan di depan rumah. Pengguna jasanya sebatas teman-temannya dekat saja. “Saya membuka bengkel setelah saya resign dari salah satu perusahaan kontraktor di Surabaya . Saya putuskan untuk menata hidup,” kata alumnus teknik sipil sebuah kampus di Surabaya yang enggan dia sebutkan.

Bagi Koko, membuka usaha kecil-kecilan tersebut modal utamanya adalah jaringan dan relasi alias gaul. Kebetulan, selama ia berjuang mencari uang kuliah sudah terbiasa dengan dunia mobil dan jual beli alias makelar mobil. Pernah juga ia menjadi makelar tiket Bioskop Mitra di Surabaya. Ia juga sempat berjualan celana hasil kulakan dari Perak, lantas dijual kepada rekan-rekannya. Pokoknya, serabutan jatuh bangun.

Berbekal doktrin dari orang tua agar memperluas pergaulan, menjadikan Koko makin luwes dalam membangun jaringan pertemanan. Tak hanya teman di strata ekonominya (menengah bawah) tapi juga relasi yang dinilai dari kelas the have. “Bangunan relasi ini yang membuat ruang gerak saya makin luas saat benar-benar terjun di bengkel. Pada Mei 1993, saya resmi membuka bengkel dengan nama Cat Mobil Koko,” ucap pria penghobi menyanyi tersebut.

Usaha Koko yang berjalan sekarang boleh dibilang sukses. Bertempat di atas lahan seluas 4.000 meter persegi, setiap bulannya ada sekitar 175 unit mobil yang ditangani. Dalam penanganan tersebut ada masing-masing bagian. Mulai bagian checklist, ruang bodi pengecatan, ruang dempul, hingga ruang finishing sebelum akhirnya diserahkan kepada pemilik.

Segmen bengkelnya dari kelas perseorangan sampai perusahaan. Sebagian besar malah kalangan corporate. Perusahaan rokok di Malang Raya, hampir semuanya memanfaatkan jasanya. Selain itu, tiga instansi lingkup Pemda Malang Raya. Beberapa perguruan tinggi, seperti UB (Universitas Brawijaya), UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), dan Universitas Kanjuruhan. Belum lagi para pejabat-pejabat yang secara pribadi memanfaatkan jasa bengkelnya.

“Saya ini sebenarnya bukan siapa-siapa, hanya tukang cat mobil. Tapi setiap harinya bisa leluasa bertemu dengan orang-orang penting,” ujarnya merendah.

Mengendalikan roda bisnis, kata Koko, bukan lantas berjalan mulus-mulus saja. Pas terjadi krismon (krisis moneter) berdampak sistemik yang melanda Indonesia 1997/1998 lalu, seperti ribuan perusahaan lain, usahanya sempat goyang. Dia tak tega mem-PHK karyawan. Para karyawannya lantas dibuat masuk dengan sistem shift sebagai langkah efisiensi

Bagaimana tidak, mobil yang masuk turun drastis. Dari bulan-bulan biasa yang bisa mencapai 50 unit, kala itu masih untung bisa datang separonya. Lagi pula, cat yang dulu bisa dibayar mundur, saat itu harus cash. Harganya melambung pula, dari Rp 50 ribu per kg menjadi dua kali lipatnya.

Kondisi psikis Koko pun sempat limbung. Ia hanya bisa berupaya menguatkan agar tetap bisa survive. Motivasi tiga teman lamanya, yakni H. Rasyid Ma’ruf, Lieksen, dan Rahmad Yamid, makin membuat Koko merasa tabah untuk menghadapi gelombang hadangan pelik tersebut. “Bersyukur, dorongan teman-teman saya itu membuat saya akhirnya tidak merasa sendiri,” ucapnya.

JPNN

Incoming search terms for the article:

Bengkel cat koko,bengkel cat motor malang,mencari uang dimalang,cat mobil malang,bisnis bengkel cat mobil,Bengkael cat koko,cat mobil di malang,bengkel cat malang,bengkel cat mobil malang,bengkel mobil resmi malang raya



Beri Tanggapan