Thursday, February 9, 2012 16:08 WIB


cara diet sehat


Dalang-dalang Cilik, Asah Kemampuan Demi Wayang

Oleh pada Thursday, March 11, 2010, 21:33
Kategori Profil ada 0 Tanggapan .

iklan murahiklan murah

cara diet sehat

Saat anak-anak berkiblat pada hiburan yang lebih mengedepankan modernisasi, masih ada segelintir bocah yang menyukai wayang kulit. Melalui Sanggar Padaka Nusa, sejumlah anak mengolah kemampuannya mendalang. Mereka seakan “melupakan” hiruk-pikuk beragam hiburan di televisi.

Bonaventura Almond Pradipta, salah satu anak didik Sanggar Padaka Nusa, tengah konsentrasi memainkan tokoh wayang Pandhito Durno. Kedua tangannya begitu terampil menggerakan tokoh tersebut sambil diiringi suara keprak yang dihentakan kaki kirinya.

Tak berselang lama, saat tangan kiri Almond – nama sapaan siswa kelahiran 1999 tersebut- menyentuh tangan Pandhito Durno, terdengar suara Warno, sang guru dalang dengan lantang. “Ayo, tudingane salah (cara menunjuknya salah). Harus lurus. Pelan-pelan tidak usah tergesa-gesa,” teriak Warno saat melatih para siswanya di kompleks RM Inggil, Sabtu lalu.

Ya, di sanggar berukuran sekitar 2 x 3 meter tersebut Warno sedang memoloti kemampuan anak-anaknya. Total ada enam bocah yang berguru di sanggar tersebut. Di tempat yang disulap layaknya menggelar pentas wayang, sudah lengkap dengan tokoh pewayangan. Lengkap pula dengan tokoh yang disebut bolo kiwo dan bolo tengen.

Suara gamelan yang mengiringi latihan tersebut berasal dari tape recorder. Namun begitu tak mengurangi suasana latihan. Almond bersama dua temannya, Khafid Alva Andhika dan Dian Permana Putra, tetap serius latihan.

Satu per satu satu dalam waktu berurutan, mereka mengeluarkan kemampuan sesuai tingkat materi yang sudah diserap. “Setiap tokoh harus ada penghayatan karakter. Baik itu daya suara maupun sikapnya,” ucap Almond.

Materi yang sedang diserap siswa kelas V SDK Cor Jesu itu salah satunya adalah paseban Jawi. Yakni, suatu adegan setelah raja memimpin pertemuan di teras luar kerajaan (Ngastino). Dalam era sekarang, adegan tersebut bisa diimplementasikan sebagai pertemuan pejabat setara menteri yang dipimpin presiden.

Almond berkisah, kesukaannya pada tokoh pewayangan setelah berkali-kali melihat acara wayang kulit di salah satu televisi swasta. Kedua orangnya tuanya bukanlah seorang dalang. Namun darah seni itu mengalir dari kakeknya, H.Y. Suratno, yang menyukai wayang kulit. “Dulu eyang kakung (kakek) sering mengajak saya melihat wayang. Tidak tahu, saya kok jadi suka,” ucap bocah berkaca mata minus tersebut.

Saking sukanya terhadap wayang, dia sempat meminta dibuatkan wayang dari kertas kepada orang tuanya. Ayahnya cukup tanggap dengan bakat yang melekat pada anaknya itu. Terbukti, sejak kecil Almond diikutkan latihan di Sanggar Senaputra yang berada di kompleks lokasi wisata Senaputra.

“Saya paling suka tokoh Werkudoro dan jadi idola saya. Karena tokoh ini selalu berjalan di jalan yang benar. Karakternya tegas,” papar anak pasangan Bernadheta Diana Rahwati dan Emanuel Suryawan I Almond.

Dalam mendalang, Almond sudah memiliki banyak pengalaman pentas. Sebanyak delapan lakon pernah diperagakannya. Di antaranya, cerita Pandadaran Sokalimo, Hulubis Kuntul Baris, Lahirnya Gatotkoco, Wahyu Makutharama, Wahyu Tunggal Nogo, dan Dewa Ruci. Ketika akan mendalang, dia juga melakukan persiapan khusus. Biasanya, lebih banyak menenangkan diri, banyak minum air putih, dan tak makan gorengan.

Almond, merupakan salah satu siswa yang bergabung di sanggar tersebut. Masih ada dua siswa lain yang malam itu tengah menempa kepiawaiannya. Yakni, Khafid Alva Andhika, siswa kelas IV SD Islam Sabilillah, dan Dian Permana Putra, siswa kelas SMAN 2 Batu. Kedua siswa tersebut menyukai seni wayang sejak kecil.

Alva, misalnya, mengaku sudah terbiasa menyaksikan wayang semalam suntuk yang ditayangkan Indosiar dan JTV. Kesukaannya itu dirasakan sejak duduk di bangku TK. Tanpa disadari, kesenangannya itu terpupuk sampai sekarang.

Malah, penggagum dalang Ki Anom Suroto tersebut tak malu-malu saat menyampaikan kepada rekan-rekannya. “Kalau di sekolah saya malah disuruh teman-teman menirukan salah satu tokoh. Saya turuti saja, karena saya senang kalau teman-teman saya juga kenal wayang,” ucap sulung dari dua bersaudara tersebut.

Besar keinginan Alva untuk menarik teman-temannya seperti dirinya. Menyukai wayang. Tak jarang pula dia mengajak temannya untuk ikut latihan. Pemikirannya, kalau bisa latihan bersama teman-temannya akan terasa kompak. “Tapi tidak mudah. Banyak teman yang suka, tapi kalau saya ajak latihan tidak mau,” ucap bocah berusia 10 tahun ini.

Jika sedang mood, saat latihan Alva pun bisa sampai berjam-jam. Sesi waktu yang disediakan gurunya Warno, seringkali dinilai kurang. Biasanya ia melakukan itu setelah pulang sekolah. Jamnya dari siang hingga sore hari. Tentang kesukannya ini, kedua orang tuanya, Fitri Kurniawati – M. Khoirul Huda, sudah cukup paham. “Bapak dan ibu cuma pesan aja, jangan lupa pelajaran lain,” paparnya.

Pengalaman Dian tak jauh berbeda. Kendati menyukai wayang dan seni dalang sebagai kelompok minoritas, namun dia tak perlu merasa minder. Apalagi dalam perkembangannya, banyak temannya yang kepingin bisa mendalang tapi kemampuannya tak bisa seperti dirinya. “Dulu memang terasa aneh, karena teman-teman saya kebanyakan suka band. Saat ini sudah tidak lagi,” ucap Dian.

Suatu ketika saat duduk di bangku SMP, Dian cilik unjuk kebolehan di pentas. Momen tersebut agaknya menjadi momentum agar bisa diterima rekan-rekannya. Pendek kata, rekannya tidak lagi memandang sinis tapi dengan penuh kekaguman. “Saya bangga karena tidak banyak yang bisa mendalang,” ungkapnya.

JPNN

Baca juga :

dalang cilik almond, sejarah sman 2 batu

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

iklan murahiklan murah

cara diet sehat



Komentar :