Penilai manajemen mutu tingkat nasional yang memiliki latar PNS di Indonesia sejak tiga tahun terakhir tercatat hanya ada satu orang. Ia adalah drg Asri Kusuma Djadi MMR. Siapa dia?
Menjadi orang yang punya keahlian langka di luar bidangnya membuat Asri Kusuma Djadi menomorduakan profesinya sebagai dokter gigi. Sejak 15 tahun ini ia memilih fokus dengan kesibukannya di bidang pengembangan manajemen mutu pelayanan di Bidang Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, tempatnya bekerja.
Sementara usahanya buka praktik sebagai dokter gigi kurang diseriusi. ”Memang sih, dengan praktik dokter saya punya banyak uang. Namun sayang, ilmu yang diperoleh kurang banyak,” akunya.
Jika bertambah, itu pun hanya melulu soal kesehatan gigi. Kurang menyentuh pada kajian ilmu lain. Beda halnya jika menekuni bidang manajemen mutu seperti yang ia geluti sekarang. Asri bisa merasakan banyak ilmu yang ia timba.
Dari tata ruangan kerjanya saja, bisa dilihat jika Asri kurang minat seputar profesinya sebagai dokter gigi. Di ruang yang terletak di lantai II RSSA Malang itu, tidak ada satu pun hiasan berupa plakat, stiker, atau piagam, tentang ilmu kedokteran gigi. Yang ada hanyalah piagam tentang keberhasilannya di bidang pengembangan manajemen mutu. Di antaranya, piagam dari Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia (Indonesia Quality Management Association).
Asri, yang mewakili RSSA Malang, menjadi salah satu dari 5 orang Indonesia yang dianggap sebagai penggerak quality improvement. Kelima orang tersebut berasal dari instansi berbeda. Yakni, dari PT Pupuk Kaltim, PT Pupuk Kujang, PT Astra Agro Lestari, dan PT Jasa Marga. Penghargaan itu diserahkan Laksamana TNI (Pur) Sudomo, selaku pelindung dan senior advisor Perhimpunan Manajemen Mutu Indonesia. Foto pemberian plakat itu ia tempelkan di dinding dekat pintu masuk ruang kerjanya.
Sementara, jam praktik dokter di rumahnya, kawasan Jl Rinjani-Kecamatan Klojen ini, dibuka mulai dari Senin-Kamis dengan jam layanan pukul 18.00 hingga 21.00. Namun kenyatannya tidak demikian. Asri sengaja membuat sistem buka tutup layaknya pengaturan arus lalu lintas.
”Bukannya malas buka praktik, namun kesibukan saya untuk memperhatikan kegiatan peningkatan kualitas mutu di RS sangat padat,” ujar wanita berjilbab ini.
Karena perhatian tercurah paling besar ke masalah seputar manajemen mutu, puteri pahlawan Mas TRIP Almarhum Boges Sujadi ini kurang serius di dunia kedokteran.
”Saya sendiri tidak tahu, kenapa ketika ada pasien datang ke rumah, saya kurang sreg. Namun ketika disuruh menunggui anak-anak latihan soal pengembangan mutu hingga berjam-jam, bahkan seharian penuh, malah betah,” kata Asri.
Besarnya perhatian Asri terhadap dunia pengembangan manajemen mutu tidak sia-sia. Pada November 2007 lalu hingga November 2010 mendatang, dia diangkat menjadi penilai manajemen mutu tingkat nasional. Bahkan, Asri adalah satu-satunya penilai di Indonesia dari latar belakang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Penilai lainnya, rata-rata berasal dari latar belakang swasta. Berkat wanita kelahiran Jakarta, 13 Mei 1961 ini, nama RSSA semakin dikenal di kancah nasional dan internasional.
Untuk tingkat nasional sudah puluhan piagam dan piala kejuaran manajemen mutu yang berhasil diraih. Sedang tingkat internasional, sejak 2007-2009 lalu telah menyabet sebanyak tiga medali perak dan emas dalam event lomba ICQCC (International Convention Quality Control Circle) di Beijing (2007), Pakistan (2008), dan Filipina (2009). Setiap materi lomba yang diikuti, permasalahan sederhana yang ditemui dalam menjalankan tugas kesehariannya diolah dan dicarikan jalan keluar.
”Solusi dari permasalahan itulah yang dijadikan contoh bagi negara lain dalam penyelesaian masalah serupa,” ujar wanita yang murah senyum ini.
Penunjukan Asri sebagai penilai manajemen mutu tingkat nasional ia peroleh dari Perhimpuan Manajemen Mutu Indonesia (PMMI) sejak November 2007 lalu. Tugasnya itu akan berakhir November 2010 mendatang. Perhimpunan ini cukup konsen dengan masalah-masalah peningkatan mutu perusahaan swasta, BUMN (Badan Usaha Milik Negara), atau instansi pemerintahan untuk menghasilkan kinerja maksimal.
Setelah masa penunjukkan berakhir, PMMI akan mengkaji lagi apakah bisa diperpanjang atau tidak. Indikator penunjukkan itu bisa diperpanjang atau tidak tergantung dari keaktifan Asri selama menjabat sebagai penilai. Di antaranya, selalu aktif mengikuti atau menciptakan beragam kegiatan terkait mutu di lingkungan tempat ia bekerja.
Sebagai penilai tingkat nasional, Asri memiliki banyak kesibukan di luar profesi sebagai dokter gigi. Di antaranya, mengintensifkan kegiatan pengembangan manajemen mutu di tempat ia bertugas dan menjadi pembicara di sejumlah acara seminar manajemen mutu. ”Dalam sebulannya ada tiga atau empat kali undangan yang harus saya datangi untuk menjadi pembicara yang berkaitan dengan peningkatan mutu kerja karyawan,” ujar Asri.
Pengalaman lain dari wanita berjilbab ini adalah menjadi penilai sekaligus membina di lingkup pemerintahan. Sebut saja, Pemkab Magetan, Pemkot Malang, puskesmas se-Jatim, RS Paru Jember, Pemkab Nganjuk, dan Gelar Budaya Kerja Provinsi Jatim tahun 2002, 2003, 2004, dan 2007.
Dari semuanya itu, prestasi yang berhasil ia raih dan sangat ia banggakan adalah tercapainya cita-citanya untuk membuktikan pada khalayak ramai bahwa PNS Republik Indonesia tidak kalah dengan pegawai-pegawai swasta atau pegawai badan-badan usaha lainnya di negara ini.
Perjalanan Asri menjadi seorang penilai manajemen mutu cukup panjang. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof Dr Moestopo di Jakarta pada 1986 lalu, pada 1988, Asri tugas menjadi dokter gigi di Puskesmas Nongkojajar, Pasuruan.
Berikutnya pada 1990, Asri masuk menjadi staf medis di RSSA Malang. Selama menekuni bidang medis, Asri merasakan dunianya hampa. Sekitar 1995 dia mulai membentuk kelompok-kelompok kecil di lingkungan RS untuk membahas permasalahan seputar pelayanan pada pasien.
Dalam perjalanannya, PNS golongan IVB ini semakin terbebani dengan permasalahan seputar peningkatan kualitas manajemen mutu rumah sakit. Karena itu, pada 2000 lalu, penghobi traveling dan olahraga arung jeram ini melanjutkan studi S2 di Universitas Gajah Mada (UGM). Asri mengambil program magister manajemen rumah sakit. Selepas studi S2, wanita yang mengaku tidak sabaran ini, sedikit demi sedikit mulai mendalami manajemen mutu.
Gebrakan awal dia langsung mengikutsertakan RSSA dalam ajang kompetisi manajemen mutu tingkat nasional pada 2007 dan ICQCC.
Dalam ajang ICQCC pada tanggal 23 Oktober 2009 itu di Cebu, Filipina, Asri mendapatkan rekomendasi untuk menjadi penilai internasional di ICQCC tahun 2011 di Yokohama, Jepang. Andaikan rekomendasi ini menjadi kenyataan, maka nanti pada tahun 2011, dia akan menjadi seorang PNS pejabat struktural Pemprov Jatim dan satu-satunya di Asia Tenggaran yang akan menjadi penilai penerapan manajemen mutu perusahaan-perusahaan se-Asia Pasifik.
JPNN
Baca juga :
Komentar :