Masyarakat Songgoriti merasa iri dengan perkembangan wisata di bagian Kota Batu lainnya. Mereka minta Pemkot Batu turut memperhatikan perkembangan wisata yang sudah berusia puluhan tahun tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan wisata Songgoriti bisa dibilang lambat. Kawasan wisata yang ada sejak era kolonial Belanda itu kini kalah bersaing dengan objek wisata lainnya. Sepertinya, Songgoriti sudah kalah menarik dengan Jatim Park, Museum Taman Satwa, dan Batu Night Spectacular.
Padahal, jika dibandingkan dengan objek wisata lainnya, objek wisata Songgoriti mempunyai dampak langsung pada masyarakat. Di kawasan itu ada sekitar 200 vila yang dikelola masyarakat setempat, ada ratusan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan kegiatan wisata lainnya.
“Kami ingin pemkot memberikan perhatian pada Songgoriti,” ujar Rudi Hartono, tokoh pemuda Songgoriti, kemarin (2/2).
Bentuk perhatian yang bisa diberikan pemkot adalah pemberdayaan masyarakat. Misalnya dengan meningkatkan SDM-nya. Selain itu, pemkot juga diharapkan mampu mengembangkan objek wisata baru yang mampu menyerap tenaga kerja. “Termasuk juga menghilangkan konotasi negatif yang selama ini menempel di Songgoriti,” ujar pria yang akrab dipanggil Koplo itu. Kesan negatif muncul karena banyaknya vila di kawasan itu dijadikan sebagai tempat mangkal atau transaksi pekerja seks komersial (PSK).
Sebenarnya, lanjut dia, jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Batu, warga Songgorit sudah mempunyai kesadaran sebagai masyarakat wisata. Tinggal dipoles sedikit saja dengan campur tangan pemerintah.
Hal lainnya yang diminta masyarakat ke pemkot adalah meningkatkan infrastruktur. Misalnya dengan membuat tempat parkir yang representatif. Juga menyediakan tempat khusus bagi pedagang kaki lima (PKL). Sebab selama ini ratusan PKL bertebaran di area pedestrian. Akibatnya wistawan tak bisa berjalan-jalan dengan nyaman untuk menikmati keindahan alam Songgoriti.
Namun, Pemkot Batu sebagai pemilik otonomi tak mau disalahkan begitu saja soal lambatnya perkembangan Songgoriti. Pemkot setiap tahunnya sudah banyak mencurahkan dana untuk kemajuan wisata. Misalnya, dengan memperlebar jalan, membangun trotoar, dan mempercantik pintuk masuk. “Kami yakin jika pemkot mau berbuat, maka Songgoriti akan maju,” ucap Koplo.
Pemkot Batu justru menuduh Pemkab Malang sebagai penyebab lambatnya perkembangan wisata di kawasan tersebut. “Yang menjadi penghambat berkembangnya wisata di Songgoriti adalah Pemkab Malang,” tuding Eko Suhartono, Kabag Humas Pemkot Batu, kemarin (2/2).
Menurut mantan Camat Bumiaji tersebut, dia melontarkan pernyataan itu bukan sekadar asal bunyi. “Di Songgoriti itu ada 3 kawasan wisata yang merupakan milik pemkab. Namun, ketiga-tiganya tak dikelola dengan baik,” ujarnya.
Ketiga tempat wisata yang dikelola kabupaten itu adalah Hotel Songgoriti, pemandian air hangat Songgoriti, dan pasar wisata. Dia yakin, jika Songgoriti dikelola dengan baik pemkab, maka perkembangan wisata di kawasan itu akan signifikan. Sebab, ketiga objek wisata itu mempunyai peran vital bagi maju atau mundurnya wisata yang berada di Desa Songgokerto tersebut.
Karenanya, dia menyarankan, jika pemkab sudah tak mampu memaksimalkan objek wisatanya di Songgoriti, akan lebih baik jika diserahkan ke Batu. “Bila Songgoriti diserahkan ke Pemkot Batu, maka ceritanya akan lain,” tandas Eko.
Untuk saat ini, yang bisa dilakukan pemkot selain terus memperbaiki infrastruktur adalah merencanakan pembuatan site plan pengembangan Songgoriti. “Untuk pembuatan site plan, kami sudah mengajak pihak ketiga. Mereka merupakan ahli dalam perencanaan tempat wisata,” tambahnya.
Baca juga :
Komentar :