Monday, February 6, 2012 11:49 WIB


cara diet sehat


Srikandi-Srikandi Mantan Dewan yang Jadi Penggiat HIV/AIDS

Oleh pada Tuesday, March 2, 2010, 17:39

iklan murahiklan murah

cara diet sehat

Hikmah Bafagih adalah salah seorang mantan anggota dewan yang mendapatkan tiga penghargaan sekaligus untuk aktivis perempuan penanggulangan HIV/AIDS. Tiga penghargaan itu dari Family Health International (FHI) Indonesia, United States Agency for International Development (USAID), dan LSM Paramitra. Apa yang melatarbelakanginya?

Hikmah adalah salah satu dari dua wanita yang saat menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang 2004-2009 getol mengegolkan perda penanggulangan HIV/AIDS. Setelah satu setengah tahun berjalan, perda itu kini sudah efektif berjalan.

Untuk itulah dia pun memeroleh tiga penghargaan itu. “Semangatnya luar biasa. Makanya kami mengusulkan Bu Hikmah. Mantan anggota dewan perempuan lainnya adalah Ari Wahyu Astuti,” kata Tri Gozali, project Manager Paramitra.

Hikmah kini sudah tak lagi menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Malang semenjak pertengahan 2009. Saat ini, perempuan dengan gaya bicara ceplas-ceplos ini lebih banyak di pemberdayaan perempuan melalui organisasi yang dia pimpin, Fatayat Nahdlatul Ulama Kabupaten Malang. Lebih dari itu, dia juga sibuk dalam dunia politik sebagai salah seorang wakil ketua DPW PKB Jatim.

Membela hak-hak perempuan juga menjadi dunianya. Hikmah adalah salah seorang konselor Women Crisis Center (WCC) Puan Amal Hayati. Juga aktif dalam seminar-seminar yang berkaitan dengan pencegahan kekerasan perempuan dan anak.

Aktif terhadap isu penanggulangan HIV/AIDS masih menjadi salah satu program kegiatan perempuan yang dikaruniai empat putra ini. Di Fatayat NU, Hikmah tengah mempersiapkan konsep monitoring dan evaluasi (monev) terhadap program penanggulangan HIV/AIDS yang diselenggarakan PBNU bersama Global Fund (GF), lembaga donor untuk penanganan malaria, tubercolosis, dan HIV/AIDS di Indonesia.

Lokasi sasaran kerja sama PBNU dengan GF ada di 65 kabupaten/kota di 21 provinsi. Saat ini, segala persiapan tengah dilakukan dan ditargetkan akhir 2010 sudah bisa di-launching. “PBNU menjadi penerima hibah utama penanggulangan HIV/AIDS dengan nilai total Rp 120 miliar,” ungkap Hikmah.

Beberapa waktu lalu, PBNU mengumpulkan para tenaga yang punya dedikasi terhadap penanggulangan HIV/AIDS. Sebagai salah satu pihak yang turut diundang, dia ingin memberikan pengalamannya untuk kesuksesan program tersebut.

Hampir sama dengan program lainnya, kerja sama dengan PBNU dan GF ini berkutat seputar pembuatan pusat rehabilitasi ketergantungan obat, kondomisasi, dan kampanye pencegahan. “Pencegahan fokus kepada pencegahan secara mentalitas. Utamanya pada ibu-ibu rumah tangga. Kalau untuk pencegahan kepada para risiko tinggi (risti), itu telah menjadi domain lembaga lain,” kata perempuan asli Pasuruan ini.

Di internal organisasi fatayat, Hikmah juga belum berhenti untuk mengajak para ibu-ibu pengajian untuk memahami penyakit mematikan itu. Dalam agenda pengajian rutin, materi HIV/AIDS menjadi salah satu materi wajib untuk disampaikan kepada para anggota.

Di masing-masing anak cabang atau ranting, materi tentang jenis virus, penularan dan pencegahannya menjadi opsi untuk tema ceramah. “Biasanya selesai diba’an, ada ceramah. Kami beri pilihan HIV/AIDS untuk disampaikan kepada anggota dan masyarakat,” kata Hikmah.

Yang sedang dalam pembuatan konsep adalah mengampanyekan penanggulangan HIV/AIDS dengan meminimalisir kegiatan yang menjadi pemicunya. Ibu-ibu diberikan pembekalan materi-materi praktis teknik “mengendalikan” keluarga.

Misalnya, memberikan training di anak cabang dan ranting tentang materi ciri-ciri suami selingkuh. Atau ciri-ciri dan penanggulangan anak yang terkena narkoba. Memang materi tidak berkaitan dengan pencegahan langsung penularan HIV/AIDS.

Namun, dengan begitu membuat istri tahu ciri suami yang selingkuh atau jajan, termasuk mengetahui anak yang mencoba atau mengonsumsi narkoba. Dengan begitu istri bisa segera melakukan langkah antisipasi. “Suami yang selingkuh itu kan salah satu jalan HIV/AIDS masuk ke kalangan ibu rumah tangga. Kalau istrinya tahu, bisa mengajak suaminya tes HIV, maka pencegahan bisa dilakukan. Daripada hanya marah-marah,” kata Hikmah.

Melakukan penggalangan opini mencegah penularan HIV/AIDS juga dilakukan dengan cara memberikan teknik dan tip mencegah tentang kekerasan dalam rumah tangga. Bila para anggota fatayat dan ibu-ibu rumah tangga paham kekerasan dalam rumah tangga, maka selingkuh atau suami jajan bisa dicegah. Termasuk perceraian bisa dihindari. Sehingga anak-anak mereka tidak menjadi putus asa yang bisa mengarah pada narkoba dan seks bebas.

“Jadi memang lebih sering pada pencegahan tak langsung. Penanggulangan tak langsung ini belum banyak dilakukan. Orang tahunya kan mencegah penularan dengan memakai kondom. Nah kami bagaimana caranya mencegah agar nantinya tidak perlu memakai kondom. Lebih bagus kan,” kata Hikmah.

Baca juga :

yang melatarbelakangi ibu rumah tangga tidak tahu HIV

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

iklan murahiklan murah

cara diet sehat



Komentar :