Sibuk Urus Gelar Profesor, Hasilkan Enam Buku
Tidak semua atlet bisa berprestasi di cabang olahraga yang digeluti serta akademiknya. Tapi, bagi Sri Rahaju Djatimurti Rita Hanafie, dia mampu meraih kedua-keduanya. Selain mantan karateka nasional, kini dia mengejar gelar profesor.
Kalau melihat sepintas, pasti tidak mengira kalau Rita adalah mantan seorang atlet karate nasional di nomor kata. Karena penampilannya sangat kalem. Begitu juga dengan pakaian yang dikenakan juga tidak mengambarkan dia seorang pendekar. “Banyak teman-teman saya dan mahasiswa saya tidak tahu kalau saya mantan atlet karate nasional,” kata Rita .
Rita yang menggunakan pakaian kerja dipadu dengan jilbab warna coklat muda ini lebih cocok sebagai seorang pendidik. “Masih banyak pandangan miring kalau seorang atlet maupun mantan atlet berpakaian rapi itu cukup tabu. Itu adalah pandangan yang salah,” tegas mantan peraih medali emas PON XII di Jakarta ini. Bagi Rita, penampilan memang sangat diutamakan. Meski saat dia masih menjadi atlet, dia selalu tampil rapi.
Dia lantas menceritakan bagaimana dia bisa sukses prestasi dan sukses akademik. Peraih doktor pertanian di Universitas Brawijaya (UB) ini mengatakan, sukses di cabang olahraga dan sukses akademik tidak terlepas dari peran orang tua.
Karena dengan kemampuaan yang tinggi serta dukungan orang tua itulah, modal yang cukup berharga bisa meraih sukses. Terutama masalah kedisiplinan dan kerja keras. “Sejak kecil saya selalu dididik disiplin. Begitu juga saat saya menjadi atlet,” kata peraih medali emas Piala Kasad Cup I 1985 di Jakarta ini.
Rita menjelaskan, dirinya belajar karate saat duduk kelas II SMP Dapena II Surabaya. Saat ikut kegiatan ekstra kurikuler karate di sekolahnya, dia selalu disiplin latihan. Prestasi yang pertama direngkuhnya adalah ketika duduk di kelas III SMP.
Saat itu dia ikut kejurda Lemkari Jatim dan meraih juara I di nomor kata perorangan putri . “Biasanya kalau sebelum latihan, saya sudah menyelesaikan tugas sekolah. Sehingga saat latihan tidak ada beban,” ucap wanita yang tinggal di Perumahan Puncak Buring Indah Barat ini..
Inilah prisnsip yang selalu dipegang Rita meskipun dia menjalani latihan hingga bergabung dengan training center (TC). Begitu juga saat menjadi mahasiswa UPN Veteran pada 1986, dia pun memegang teguh kedisiplinan.
“Antara belajar dan latihan harus seiring. Jangan sampai ada yang dikalahkan. Banyak anggapan yang salah. Karena kalau sukses prestasi tidak perlu sukses akademik,” tegas dosen berprestasi Universitas Widya Gama (UWG) pada 2005 ini.
Selama menjadi mahasiswa, kurang lebih 20 gelar direngkuhnya. Di antaranya, medali emas PON XI di Jakarta 1985 dan SEA Games XIV di Jakarta. Bahkan, dia sendiri pernah tampil di kejuaraan dunia karate di Sydney, Autralia. Meskipun dia hanya mampu menduduki peringkat keenam.
“Saya baru pensiun dari karate setelah saya memiliki satu anak. Tepatnya pada 1989 usai PON XII di Jakarta, karena suami tidak mengizinkan lagi untuk berkecimpung di kareta,” ibu dua anak ini. Sejak itulah dirinya konsentrasi di dunia pendidikan, apalagi dia seorang dosen pertanian UWG. Sehingga dirinya tidak mau setengah-setengah untuk urusan belajar.
Berkat ketekunannya di dunia akademik, dia menyelesaikan program S-2 bidang ekonomi sumber daya manusia di UB pada 1996. Selanjutnya di lulus program doktor ilmu ekonomi pertanian UB pada 2004. Kini dia mengejar gelar profesor.
Apalagi dia telah menelorkan beberapa buku selama dia menjadi dosen di UWG. Di antarnya, Filsafat Ilmu dan Metologi Penelitian, serta Pengantar Ilmu Pertanian. Totalnya ada enam buku yang dihasilkan. “Mudah-mudahan beberapa bulan ini gelar prosefor saya sudah turun,” tegas suami Sulih Pujianto ini.
Baca juga :
Komentar :