Desa Talok, Kecamatan Turen, dikenal sebagai kampung marning. Berton-ton marning dan emping jagung dihasilkan dari desa itu. Pangsa pasarnya pun tak hanya di Malang Raya, tapi juga luar kota dan luar Jawa.
Bulan masih menampakkan wajahnya ketika Buamin dan tujuh rekan kerjanya meniriskan jagung dari dalam tujuh dandang ukuran besar. Pagi itu jarum jam menunjuk pukul 04.00. Jagung yang dikukus semalaman itu masih mengepulkan asap berbau gurih ketika dimasukkan ke dalam mesin giling. Hasil gilingan adalah jagung gepeng yang sering disebut sebagai emping jagung.
Emping jagung yang masih hangat segera diangkut ke lantai penjemuran menggunakan gerobak. Tak kurang dari satu jam kemudian, emping jagung itu sudah terhampar merata di lantai jemur menunggu sinar matahari.
“Sebelum ada matahari sudah dijemur. Sehingga saat siang hari sudah kering dan siap dikemas. Apalagi ini musim hujan. Harus nguber (mengejar) panas matahari,” kata Buamin, salah seorang pekerja di industri marning jagung milik Zulaikah.
Marning dan emping jagung berbahan baku jagung pipilan variestas lokal. Pemrosesan jagung itu dimulai dengan merebusnya dengan campuran air kapur. Lalu mencucinya hingga bersih dan merendamnya dengan air bersih. Proses selanjutnya adalah mencuci untuk kali kedua, mengkukusnya, dan menggilingnya hingga menjadi emping. Tahap terakhir sebelum digoreng adalah menjemurnya hingga kering. Penjemuran dilakukan agar marning bisa tetap kriuk saat dimakan.
Industri emping jagung dan marning jagung sudah ada di Desa Talok, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, lebih dari 30 tahun lalu. Hingga kini, sebanyak 10 industri penyedia bahan baku marning dan emping jagung masih eksis. Sedang jumlah usaha penggorengan lebih banyak lagi. Usaha penggorengan adalah industri kecil rumah tangga yang hanya memanfaatkan bahan baku menjadi produk siap jual.
“Kalau saya hanya membuat bahan bakunya saja untuk dijual ke industri penggorengan. Pernah nyoba nggoreng sendiri, tetapi berhenti. Lebih pas jual krecekan (marning kering siap goreng),” kata Zulaikah, salah satu pemilik usaha camilan jagung di Jalan Kauman III Talok.
Setiap harinya, Zulaikah menggiling tidak kurang dari 3,2 ton jagung untuk dijadikan emping jagung. Dengan tenaga kerja delapan orang, sore hari sudah terkumpul 2,5 ton rencekan. Bahan baku camilan jagung sebanyak itu ludes terjual ke beberapa industri penggorengan. Industri penggorengan itu menyebar di Desa Talok dan desa-desa sekitarnya. Apabila satu kilo rencekan rata-rata Rp 5.000, maka setiap hari omzet Zulaikah tak kurang dari Rp 16 juta.
Ibu berputera tiga ini sudah sejak 1988 memulai usahanya menggarap industri kecil camilan jagung bersama suaminya, Muhsin. Sudah 22 tahun berlalu, industri mereka makin berkembang. Ditunjukkan dengan bertambahnya omzet harian.
Haji Jumain adalah pemilik usaha camilan jagung yang ada di Jalan Wahid Hasyim Talok, Turen. Bapak berputera empat ini menyediakan dua jenis rencekan. Satu rencekan marning bulat. Dan satu lagi rencekan marning gepeng alias emping jagung.
Sama seperti Zulaikah, Jumain juga menjual rencekan. Namun ia menjualnya ke industri rumah tangga penggorengan di Turen dan daerah sekitarnya. “Kapok saya kalau menjual rencekan ke luar kota. Banyak nyantolnya,” kata bapak kelahiran Desa Talok 52 tahun lalu ini.
Dalam sehari, tak kurang dari 1,5 ton rencekan dia hasilkan per harinya. Sebagian besar, terutama emping jagung, dia olah sendiri hingga matang dan siap makan. Pasar emping jagung yang telah matang itu menembus Jakarta, Bali, Medan, Madiun dan Madura.
“Sebenarnya permintaan lebih banyak lagi. Tetapi kami belum sanggup memenuhi semuanya,” kata bapak yang memulai usahanya 15 tahun lalu dengan menjadi pengantar jagung pipilan ke sejumlah juragan emping jagung ini.
Musim hujan menjadi waktu panen bagi industri camilan jagung. Ada kenaikan produksi akibat kenaikan permintaan sekitar 30-40 persen. Pemicunya adalah sifat masyarakat Jawa dan Indonesia pada umumnya yang suka ngemil dalam suasana dingin musim hujan. “Permintaan naik, tetapi produksi tak bisa cepat karena penjemuran sering terkendala hujan,” kata Jumain.