Monday, September 6, 2010 0:14 WIB

Divisi Nepenthes (Divnep) Malang, Komunitas Pecinta Tanaman Pemakan Serangga di Kota Malang

Oleh web admin pada Tuesday, February 16, 2010, 20:12

Bagaimana mengubah blog WordPress menjadi MESIN UANG yang MEMATIKAN !! Tutorial komplit dilengkapi Software dan Script Siap Pakai SEO Complete Guide for Wordpress Instant Internet Business Ideas

Tanaman kantung semar adalah tanaman asli Indonesia yang secara perlahan menjadi hobi bagi pecinta tanaman. Kabar buruknya, eksploitasi di alam mulai mengarah pada kelangkaan spesies. Divnep mencari jalan agar kantung semar tetap bisa jadi alternatif hobi, namun tidak mengakibatkan spesies di alam menjadi punah.

Puluhan kantung semar berbentuk corong atau mirip gentong menggelantung di atap teras rumah Widyastuti, Jalan Bunga Kecilung, Kota Malang. Tanaman itu menjadi menarik karena menyembul di antara rerimbunan daunnya yang hijau. Bergantungan mirip buah ranum yang seakan-akan nikmat bila dimakan.

Ada kantung yang warnanya merah hati, kuning dengan bintik coklat, atau hijau. Ada pula yang warnanya kombinasi hijau merah. Kuning bintik merah juga ada. Spesies Nepenthes reinwardtiana punya mata. Sementara jenis N. aicalcarata punya taring. Dan yang punya nama N. albomarginata punya kalung warna putih atau coklat di ujung atas kantungnya. Ukuran kantung pun beragam, mulai panjang 5 – 20 centimeter.

Di balik keindahan warna dan bentuknya, tanaman yang disebut Periuk Monyet oleh masyarakat Riau ini menyimpan keganasan. Kantung-kantung itu “memakan” serangga. Namun cara memakan serangga tidak dengan gerakan aktif, seperti tanaman fly trap venus yang sering menjadi ilustrasi dalam film-film kartun, kantungnya bisa membuka dan menutup.

Cara kantung semar makan serangga dengan pasif. Binatang berkaki enam ini mendekati kantung karena terpancing warna dan manisnya madu yang ada di penutup kantung. Begitu mengisap madu, serangga terpeleset dan jatuh ke dalam kantung.

Serangga tak bisa keluar karena ada air di dalam kantung. Tubuh serangga lama kelamanaan hancur karena terurai enzim yang dikeluarkan permukaan kantung. Karena “makan” serangga itulah, tanaman ini tak perlu dipupuk.

Menurut Widya, lebih baik kantung semar diberi serangga daripada diberi pupuk. Jenis hewan bisa bisa laron, semut, atau keroto. Serangga itu tinggal dimasukkan ke dalam kantung dua minggu sekali. “Karena unik itulah, kami mengoleksi dan mempelajarinya. Ini kan juga tanaman asli Indonesia. Sekitar 60 persen spesies kantung semar di dunia, dulunya ada di Indonesia,” kata ibu 48 tahun ini.

Widya adalah salah satu anggota Divnep Malang. Di Malang Raya ini hanya ada lima orang yang sejak 10 tahun lalu konsisten memelihara dan mengoleksi kantung semar. Saat ditemui Radar di rumahnya pada Sabtu (13/2) kemarin di rumahnya, Widya ditemani satu anggota lainnya, Wahyu Adi Mintarto.

Wahyu termasuk salah satu anggota terlama. “Kalau penghobi yang hanya punya untuk peliharaan biasa, banyak. Tetapi kami tak hanya memelihara, tapi sudah ke arah indentifikasi, breeding dan konservasi,” sambung SMAK Hwa Ind (Santo Yusuf) ini.

Secara nasional, kata guru fisika ini, Divnep juga berasosiasi dengan Komunitas Tanaman Karnivor Indonesia (KTKI). Divnep berhimpun dengan sesama penyuka ketupat napu -sebutan tanaman kantung semar oleh suku Dayak Katingan- untuk berbagai kepentingan.

Selain memelihara dan merawat, tujuan utama komunitas adalah belajar segala hal tentang Nepenthes. Selama ini, Nepenthes banyak dipelajari oleh orang Eropa, Amerika, dan Australia. Padahal, sebagian besar spesiesnya ada di Indonesia.

Masyarakat Indonesia menganggapnya hanya tanaman yang tidak ada artinya. “Ini karena kita kurang peduli. Literatur Nepenthes banyak dimiliki orang asing. Kita yang punya hanya tidak tahu apa-apa,” ungkap guru yang akrab disapa Pak Wi ini.

Memelihara kantung semar bukan hal mudah. Banyak penjual bunga mengambilnya dari alam. Namun setelah beberapa bulan dipelihara, kantung semar akan mati. Karena sulit hidup dan berdaptasi itulah, ditambah perusakan hutan, maka jumlah kantung semar di alam semakin menipis. “Kita juga membagi pengetahuan tentang cara memelihara kantung semar. Agar tidak selalu mati ketika dipelihara. Kalau mati-mati terus, lama-lama bisa habis,” terang Wahyu.

Karena sulitnya memelihara kantung semar, jumlah anggota komunitas tak kunjung bertambah. Sebab, banyak yang putus asa dalam memelihara. Lalu meninggalkan hobinya tanpa ada kejelasan kontak. “Koleksi milik saya memang dijual. Tetapi kepada orang yang benar-benar ingin memelihara dan menjaganya. Saya catat nama orang yang pernah membeli dari saya. Tetapi sebagian besar tidak pernah kontak lagi. Mungkin sudah mati tanamannya,” kata pemilik sebuah rumah bunga ini.

Mengembangbiakkan dengan menyilangkan dengan jenis-jenis baru juga menjadi kegiatan komunitas yang dirintis sekitar tahun 2000 ini. Selain mencari varian baru yang punya keunggulan bentuk dan warna kantung, pengembangbiakan juga mengarah pada menjaga kelangsungan spesies di alam.

Dari aktivitas menyilangkan itu, antar-anggota komunitas biasanya bertukar bunga jantan atau bunga betina. Ketika hanya punya bunga jantan saja, maka mencari anggota lain yang punya bunga betina. Begitu sebaliknya. Tanpa ada pertukaran bunga jantan atau betina, maka sulit untuk bisa menyilangkan koleksi masing-masing. “Kita tahu apakah tanaman kita jantan atau betina bila sudah berbunga. Makanya kalau pas punya jantan saja, ya nyari rekan yang punya betina,” terang dia.

Dengan maraknya penebangan hutan dan pengeringan lahan di Kalimantan dan Sumatera, populasi Nepenthes makin berkurang. Beberapa spesies diidentifikasi punah atau nyaris punah. Lebih-lebih, masyarakat yang ingin memelihara kantung semar menggunakan jalan pintas. Yakni, mencarinya di hutan. Padahal, angka keberhasilan hidup kantung semar yang diambil dari alam sangat kecil. Bila tidak bisa memelihara, maka cepat mati. “Kami ingin menangkarkan sehingga masyarakat tak perlu mengambil dari hutan. Kalau diburu terus bisa punah. Paling banyak di hutan Sumatera dan Kalimantan,” sambung Widya.

Melacak keberadaan Nepenthes di habitat aslinya juga menjadi salah satu aktivitas komunitas. Berbekal literatur atau sedikit petunjuk, anggotanya keluar masuk hutan untuk mengidentifikasi habitat asli. Termasuk mengidentifikasi spesies yang nyaris punah atau langka. Lokasi ekspedisi sebagian besar di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Papua.

Dari aktivitas ekspedisi tersebut, tim pernah menemukan sebuah spesies yang belum teridentifikasi. Tidak ada literatur, maupun jurnal yang menyebutkan spesies yang ditemukan. Karena itu, salah satu nama anggota divnep, yakni Adrian Jusuf Wartono, dijadikan sebagai nama spesies. Nama depannya diadopsi menjadi Adrianii. Sehingga spesies yang ditemukan itu dinamai N. adrianii. “Adrian kini ada di Belanda untuk studi. Sekaligus mendaftarkan spesies baru yang belum teridentifikasi itu,” kata Wahyu.

Munculnya banyak spesies, menurut analisis Wahyu, karena di alam kantung semar melakukan kawin silang alami. Hasil perkawinan silang itu memunculkan beragam corak dan bentuk kantung. Itulah mengapa spesies yang ada di hutan jumlahnya puluhan.

Apa obsesi dari Divnep? Ke depan, kata Wahyu, ingin menangkarkan kantung semar dengan corak dan bentuk kantung yang menarik. Sehingga masyarakat senang memeliharanya tanpa harus memburunya di hutan.

“Kami prediksi, kantung semar bisa jadi alternatif tanaman hias yang disukai masyarakat. Seperti halnya anggrek. Keduanya adalah tanaman asli Indonesia yang perlu dilestarikan dan diperbanyak. Jangan sampai negara lain yang mengekploitasi,” tambah Widya.

Incoming search terms for the article:

bunga pemakan serangga,LITERATUR KOMUNITAS TUMBUHAN,tumbuhan pemakan serangga,komunitas tanaman,jumlah sepeda motor kota Malang 2010,jenis dan habitat kantong semar,tentang NEPENTHES,Nepenthes,merawat nepenthes,nepenthes albomarginata



Beri Tanggapan