Tak banyak anak usia belasan tahun yang mampu mengukir prestasi. Dari yang tak banyak itu, muncul nama Dewi Jasmine. Selama 12 tahun menggeluti dunia lukis, Dewi sudah menghasilkan 200-an karya lukis. Bahkan, selama itu pula ia telah meraih lebih dari 200 penghargaan lokal, regional, dan nasional.
Sekilas, tak ada yang istimewa dari gadis berparas manis ini. Gaya bicara dan tingkah lakunya seperti kebanyakan gadis remaja pada umumnya. Polos dan sedikit malu-malu.
Namun, ketika gadis yang kini duduk di kelas 2 SMA Negeri 6 Malang ini menunjukkan beberapa lukisan karyanya yang masih ia simpan di rumahnya, di Jl Halmahera 9 Kota Malang, kesan gadis belia yang ”biasa-biasa saja” perlahan sirna. Apalagi, Dewi juga memperlihatkan beberapa piagam penghargaan berskala nasional. Dipastikan gadis kelahiran 26 Maret 1994 ini tidak bisa dipandang sebelah mata.
Salah satu lukisan yang ia tunjukkan kala itu adalah lukisan berjudul Bermain di Atas Pohon. Lukisan itu dibuat pada 2007 lalu. Dalam lukisan yang menggunakan cat akrilik tersebut, Dewi menggambarkan beberapa orang anak yang tengah asyik memanjat dan tidur di atas pohon.
Gaya lukisan yang dianut Dewi adalah gaya dekoratif. Ciri khas gaya ini adalah semua objek dalam lukisan digambarkan dengan detail yang lebih rinci. Termasuk latar belakangnya. Biasanya, gaya dekoratif mengandalkan warna-warna yang cerah. Gaya seperti ini memang cocok dengan karakter dan usia Dewi yang masih ABG.
Dewi bercerita, ia mulai belajar melukis sejak umur 4 tahun. Sedikit banyak, minatnya pada lukis, menular dari sang ayah, David Sugiarto yang juga pelukis. ”Aku sering lihat papa melukis,” ujar Dewi.
Bahkan, rumahnya juga sering dijadikan tepat berkumpul para seniman lukis. Tentu saja, Dewi pun merasa ”gatal” untuk segera bermain dengan peralatan lukis. Crayon dan kertas gambar adalah peralatan lukis yang pertama kali ia pelajari. ”Papa yang ngajarin,” kenang Dewi.
Hebatnya, baru belajar melukis, Dewi sudah mampu menjadi juara 2 lomba menggambar kategori umur 4-6 tahun di Auto 2000 Malang. Prestasinya pun semakin menanjak saat ia duduk di kelas 3 SD Kasin.
Waktu itu, setelah melalui berbagai tahapan seleksi, ia menjadi salah satu dari 7 pelukis yang mewakili Jawa Timur dalam pameran yang digagas Depdiknas dan UNICEF. Pameran itu bertajuk Anak Cerdas Berprestasi Bersama Garam Yodium. Bahkan, ketika duduk di kelas 2 SMP Salahuddin Malang, Dewi meraih juara 1 kategori C (tingkat SMP), lomba lukis skala nasional yang diadakan oleh Kementrian Perumahan Rakyat (Kemenpera).
Ada kenangan tak terlupakan saat Dewi mengikuti lomba di Kemenpera. ”Waktu itu aku baru dapat informasi, sehari sebelum deadline,” ujarnya.
Dengan sistem kebut semalam, ia berusaha menyelesaikan lukisannya. Hasilnya pun sungguh di luar dugaan. Ia berhasil menjadi yang terbaik. ”Kaget juga, padahal waktunya mepet,” kenang Dewi. Hingga kini, ia telah mengoleksi lebih dari 200 penghargaan. Baik tingkat lokal, regional, maupun nasional.
Selain rajin mengikuti lomba, Dewi acapkali memamerkan lukisannya di berbagai tempat. Baik di Malang, Surabaya, Jakarta, maupun Jogjakarta. Selama berpameran itu pula, Dewi seringkali menjadi peserta termuda. Padahal, untuk bisa mengikuti sebuah pameran, biasanya harus melalui seleksi terlebih dulu.
Terakhir, ia bersama 9 pelukis, termasuk ayahnya, menggelar pameran berjudul Mata Rantai yang Lain di Jl Kawi Atas, pada 14 Juni hingga 10 Juli.
Dari hasil lomba, selain mendapat piala dan piagam, biasanya, Dewi juga mendapat fresh money. Begitu pula ketika berpameran, Dewi juga tak jarang mendapat uang dari lukisannya yang terjual. Meski enggan menyebutkan nominalnya, namun ia mengatakan, apa yang ia dapat sudah lebih dari cukup untuk ukuran anak seusianya.
Uang itu, selain untuk ditabung, juga digunakan untuk biaya sekolah. ”Lumayan, bisa bantu-bantu papa,” ujarnya tersenyum.
Tak hanya itu, dari hasil lomba dan penjualan lukisan, Dewi bisa membeli berbagai macam barang, seperti HP hingga komputer. Yang jelas, Dewi merasa bangga, ketika banyak anak seusianya masih membebani orangtuanya, tapi tidak dengan dirinya. Itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa Dewi bisa tetap eksis melakoni dunia lukis sejak umur 4 tahun.
Selain itu, dengan melukis, Dewi bisa mencurahkan segala pikirannya ke dalam kanvas. ”Ibaratnya, lukisan adalah hasil curhatan saya,” katanya tersenyum.
Bagi Dewi, kegiatan melukis sangat ampuh untuk mengusir stres. ”Kalau nggak pegang kuas sehari aja, rasanya nggak enak,” ujar penggemar Vierra ini.
Dengan mantap, Dewi ingin terus menjadi seorang seniman lukis. Saat ini, belum ada profesi lain di pikirannya. ”Seni lukis sudah mendarah daging dalam tubuh saya,” ujarnya.
Rencananya, bersama papanya dan beberapa pelukis lain, Dewi akan mengadakan pameran lukisan di Batam pada awal 2011. ”Doakan saja ya,” pintanya.
JPNN
Baca juga :
Komentar :