Thursday, February 9, 2012 16:27 WIB


cara diet sehat


Relawan AS Disebar di Kota Batu

Oleh pada Thursday, March 11, 2010, 22:08

iklan murahiklan murah

cara diet sehat

Belajar berbahasa harus langsung ke daerah asal bahasa itu. Begitu kira-kira prinsip yang dipakai 30 relawan dari Amerika Serikat (AS) yang akan belajar bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka tak sekadar belajar berbahasa di bangku kuliah, tapi langsung berbaur dengan masyarakat lokal selama dua bulan.

Ya, mulai 23 Maret mendatang, 30 relawan yang tergabung dalam Peace Corps itu bakal disebar di Kecamatan Junrejo dan Bumiaji, Kota Batu. Mereka akan tinggal dan makan di rumah-rumah penduduk setempat. Menu makanan pun tak boleh sesuai dengan lidah orang AS, harus menu ala orang kampung.

“Biarkan mereka nanti membaur layaknya penduduk asli sini,” kata Jack Seeger, koordinator Peace Corps di UMM kemarin.

Peace Corps adalah organisasi korps perdamaian yang didirikan senator John F. Kennedy pada tahun 1961. Organisasi ini berisi orang-orang Amerika yang sangat peduli dengan perdamaian dunia. Sejak didirikan, hingga Peace Corps telah melayani 139 negara.

Jack Seeger yang berbicara di hadapan puluhan tokoh masyarakat Junrejo dan Bumiaji ini banyak menguraikan panduan yang harus dipatuhi relawan dan penduduk sebagai tuan rumah. Salah satu panduan yang harus dipatuhi relawan dari AS nanti adalah tidak diperbolehkanya mereka naik motor. Baik mengemudi maupun dibonceng selama berada di program ini.

Alasannya berdasar pengalaman sebelumnya, ada beberapa insiden kecelakaan hingga meninggal yang dialami relawan Peace Corps di beberapa negara akibat naik motor. “Relawan yang melanggar aturan ini akan kami pulangkan ke AS,” tegas Jack.

Misi relawan ini datang ke Indonesia adalah untuk membantu mengajar bahasa Inggris di beberapa SMA di Jawa Timur. Namun sebelum mengajar ke sekolah, mereka harus melewati pintu training untuk bisa berbahasa Indonesia dulu.

Waktu dua bulan di Batu itulah yang harus dimanfaatkan untuk bisa berbahasa Indonesia. Mereka juga wajib mengenali budaya masyarakat setempat. “Selama dua atau tiga minggu, biarkan mereka bicara dengan bahasa Tarzan (isyarat). Lama-lama kan bisa juga dengan bahasa Indonesia,” tambah Dr Ahmad Habib, kepala Biro Kerjasama Luar Negeri UMM.

Program Peace Corps ini, kata Habib, sudah ada sejak 1961. Namun selama ini konsentrasinya masih di Afrika. Mereka membantu pendidikan dan kesehatan masyarakat Afrika. Di Indonesia, program ini baru kali pertama. Misi yang diemban adalah membantu pendidikan, khususnya mendorong siswa untuk bisa berbahasa Inggris dengan baik.

“Karena misinya sosial, seluruh biaya selama mereka di sini ditanggung lembaga Peace Corps. Tugas dari UMM hanya ngedrill bahasa Indonesia dan mengenalkan mereka pada budaya lokal selama dua bulan itu,” tandas Habib.

Sementara, Hari Sutrisno, ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Kelurahan Pandanrejo, Bumiaji, mengungkapkan, warganya bisa menerima dengan tangan terbuka kedatangan relawan AS itu. Sebab kedatangan mereka tidak membawa misi agama atau politik tertentu, tapi murni belajar berbahasa. “Kami kira tidak ada masalah, justru banyak yang senang. Tinggal kami sosialisasi ke warga sebelum mereka datang,” kata Hari.

JPNN

Baca juga :

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • Digg
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

iklan murahiklan murah

cara diet sehat



Komentar :