Menjelang hari lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke-84, Pengurus Wilayah NU (PW NU) Jatim membuat beberapa gebrakan. Di antaranya, me-launching berdirinya stasiun TV9, NU award, dan memilih duta NU yang bertugas mengenalkan profil NU kepada masyarakat luas. Akhmad Kanzul Fikri, mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) terpilih setelah melalui seleksi ketat.
Nama Kanzul Fikri mendadak populer di kalangan pemuda NU. Maklum, dia menjadi orang pertama dalam sejarah NU yang menjabat sebagai duta. Sejak 1927, NU tidak pernah mengenal adanya duta. Karena itu, begitu PW NU Jatim menggagas perlu ada duta NU yang berasal dari kalangan pemuda dan pemudi, sempat muncul pro dan kontra.
Tantangan paling kuat berasal dari para kiai dari berbagai kota. Para kiai sempat menganggap duta NU identik dengan kontes yang menonjolkan pamer kecantikan belaka. Namun setelah para kiai dijelaskan bahwa duta NU itu tugasnya membantu sosialisasi program NU, sikap kiai pun melunak. “Karena itu saya berani ikut lomba duta NU dan akhirnya terpilih yang terbaik,” kata Fikri ditemui di Unisma, kemarin.
Untuk meraih predikat ini, Fikri harus bersaing dengan 21 kader NU yang merupakan wakil dari kota dan kabupaten se-Jatim. Termasuk dengan rekan satu kelasnya sendiri, Shofiatul Hasanah, yang juga wakil Kota Malang. Seleksi dilakukan selama enam hari penuh. Semua peserta ditempatkan dalam satu asrama di kantor PW NU Jatim pada 26 – 31 Januari kemarin. “Jadi, selama enam hari itu kami terus dinilai oleh dewan juri,” terang mahasiswa asal Jombang ini.
Selama enam hari di asrama, peserta dibekali beragam pengetahuan oleh pengurus PW NU. Terutama pembekalan terkait dengan ke-NU-an atau prinsip-prinsip ahlussunnah waljamaah. Di sela-sela pembekalan yang diselingi dengan diskusi itu, dewan juri terus melakukan penilaian terhadap kemampuan daya kritis peserta.
Selain pembekalan di dalam ruang, peserta juga diajak wisata religi berupa napak tilas ke beberapa lokasi yang pernah disinggahi para wali. Di antaranya, ke gua Surowiti, Gresik, yang pernah digunakan beribadah oleh para wali serta ke masjid di bawah tanah yang ada di Mojokerto. “Kami semua dikenalkan jejak para wali. Tentu tujuannya duta NU harus paham betul bagaimana sejarah para ulama dahulu,” tandas putra pasangan Junaidi Dayat dan Jazilah ini.
Dari beberapa kategori penilaian, imbuh Fikri, yang paling sulit adalah tes kepribadian. Awalnya, dirinya tidak menyangka diminta dewan juri menggambar di kanvas dengan menggunakan pensil. Ia sempat bingung karena tidak punya bakat melukis. Karena terpaksa, dia berimajinasi melukis ustadz yang sedang mengajar mengaji. “Saya baru sadar ternyata kepribadian kami bisa dilihat dewan juri lewat lukisan itu,” imbuh mahasiswa FKIP semester V ini.
Selain melukis, dia juga bingung saat diminta berlenggak-lenggok di atas panggung. Maklum, selama ini dia tidak pernah tampil di atas panggung untuk memamerkan pakaiannya. Masing-masing peserta diminta tampil dengan memakai pakaian daerah.
Karena mewakili Malang, Fikri menggunakan batik Malangan. “Tapi soal penampilan tidak begitu penting. Karena duta NU ini yang dipilih adalah sejauh mana wawasan terhadap NU serta konsep agar NU itu bisa lebih maju. Saya bersama teman-teman sudah siap menjalankan program agar NU menjadi organisasi yang lebih maju,” tegas Fikri.
Sedangkan selama bertugas sebagai duta NU nanti, Kanzul Fikri tidak sendirian. Ia akan bersama 21 kader NU lain yang juga ikut seleksi. Salah satunya adalah Shofiyatul Hasanah. Meski ia gagal masuk nominasi 10 besar, namun mahasiswi Unisma asal Probolinggo ini tetap disertakan dalam program duta NU.
Shofiyatul mengatakan, ada banyak pengalaman berharga selama mengikuti seleksi duta NU. Dia merasa mendapat banyak wawasan tentang sejarah dan kiprah NU. Juga ada pengetahuan umum yang tidak pernah ada di dunia kampus. “Saya jadi tahu bagaimana berkomunikasi dengan banyak orang. Karena ada materi public speaking yang diajarkan,” kata Shofiyatul.